Untuk Papa : Tak Cukup Hanya Terima Kasih

untuk papa

Banyak orang bilang, jika anak perempuan biasanya lebih dekat dengan ayahnya. Meski terlahir sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya di keluarga, ikatan emosional saya lebih kuat bersama mama. Sebab waktu bersama mama di rumah lebih banyak dibanding dengan papa. Akan tetapi, pola pembelajaran pembentukan karakter, banyak saya dapatkan dari papa.

Saya dibesarkan untuk menjadi perempuan yang mandiri, jujur, rapi, dan rajin mencatat oleh papa.

Mandiri 
Dulu, ketika dihadapkan dengan persoalan susah,  saya mudah sekali menyerah. Papa memberi kesempatan kepada saya untuk bisa menyelesaikannya sendiri.

Jujur 
Papa mengajari saya untuk selalu jujur saat bekerja, dan berucap. Jangan mudah tergoda dengan kesenangan sesaat.

Rapi 
Saya diajari untuk selalu mengembalikan barang yang sudah dipakai pada tempatnya. Tujuannya untuk memudahkan pencarian dan rapi. Papa jarang menanyakan barang miliknya karena beliau selalu menyimpannya dengan rapi. Mengelompokkan sesuai jenisnya ke dalam satu wadah kemudian memberinya label, tidak lupa diberi keterangan apa saja yang ada di dalamnya.

Rajin mencatat
Namanya manusia tempatnya lupa, oleh sebab itu papa selalu menghimbau anak-anaknya untuk rajin mencatat sebagai pengingat. Jika papa mengandalkan pena dan lembaran kertas untuk mencatat, saat ini saya mengandalkan catatan di smartphone

Selain itu, papa suka sekali mengobrol dengan orang lain yang ditemuinya. Saya sendiri kagum pada wawasan luas beliau. Obrolannya selalu bisa nyambung, meski baru saja kenal.

Di kalangan teman saya, papa juga dikenal sebagai sosok yang galak. Dulu, Papa pernah marah ke rekan kerja di kantor, pasalnya jam kerja di kantor telah melebihi batas waktu. “Baru saja jadi pegawai baru, tapi sudah disuruh kerja sampai jam 11 malam dari jam setengah delapan pagi. Melanggar undang-undang ketenagakerjaan itu namanya,” tutur papa. Rekan kerja saya cuma bisa sabar dengerin omelan papa. LOL

Di balik sosok galak beliau, untungnya beliau tidak pernah memaksa kami untuk mengikuti keinginannya. Papa hanya mengarahkan sesuai bakat dan minat yang kami punya. Semua keputusan dikembalikan pada keyakinan anak-anaknya.

Sejak kecil, saya sudah diajari untuk berhemat. Bahwa mencari uang itu tidak mudah, butuh perjuangan. Jika ada barang yang ingin dibeli, papa tidak langsung membelikan. Harus ada pencapaian atau prestasi. Juga dilatih bisa menabung dengan cara menyisihkan uang jajan.

Seorang teman pernah berkata pada saya, “Orang tuamu pelit ya ?”, “Masa tidak mau membelikan mainan ….”. Waktu itu saya tidak bisa membalas komentarnya. Lalu kejadian itu saya ceritakan ke papa. Begini komentar beliau, “Cari uang itu susah, harus bekerja lebih dulu, baru bisa menikmati hasilnya.” “Temanmu berkata seperti itu, karena dia belum tahu saja, bagaimana rasanya cari uang sendiri”. Sementara itu, saya hanya bisa mangut-mangut. Kini saya  rasakan sendiri manfaat dari filosofi berhemat yang diajarkan papa. Saya jadi bisa mengerem keinginan untuk membeli barang – barang yang dirasa kurang perlu. Sebelum membeli, saya pasti pikirin dulu, barang ini harus segera dipenuhi atau bisa ditunda dulu. Harganya masuk akal atau tidak. 

Tidak cukup hanya terima kasih

untuk papa
Semoga cita – cita papa segera terwujud yaa..

Punya kesenangan dengan dunia “perbengkelan”, membuat papa banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan finansial untuk membeli beragam mesin yang nantinya akan diwujudkan untuk usaha bengkel.

Sayangnya cita-cita tersebut tidak kunjung terwujud hingga kini, terkendala kelengkapan mesin.

Meski papa mengajarkan tentang pentingnya berhemat. Sayangnya tidak dibarengi dengan ilmu bijak mengelola keuangan. Sebagian besar penghasilan, papa diinvestasikan untuk membeli berbagai mesin. Barangkali beliau tidak memperhitungkan, bahwa harga mesin akan mengalami penyusutan dari tahun ke tahun. Berganti dengan mesin yang lebih canggih, keluaran terbaru.

Jika waktu bisa diputar kembali, ketika saya remaja, saya ingin memfasilitasi papa ke seorang penasihat finansial atau mengajaknya ke sebuah acara tentang pengaturan finansial. Agar tidak salah langkah dan penghasilan bisa teralokasikan dengan tepat.

Andai saja, papa bisa berinvestasi tepat sejak dulu. Mungkin saja, cita-citanya terwujud dan bisa buka bengkel sendiri sekarang.

Saya tahu, ucapan terima kasih saja tidak pernah cukup untuk membalas segala kebaikan yang telah papa berikan.
Kini giliran tugas saya dan adik untuk membahagiakan mu, dengan cara

1. Selalu berdoa agar papa diberi kesehatan untuk bisa terus mewujudkan cita – citanya membuka usaha bengkel sendiri. Amiin.

2. Terus mendukung keinginan papa. Sejak menikah, tugas papa untuk membahagiakan anak perempuan satu – satunya telah usai. Kini giliran saya dan adik untuk membalas kebahagiaanmu, pa. Kami ingin di usia senjamu, papa selalu merasa bahagia tanpa terbebani peliknya persoalan kehidupan. Selagi ada waktu untuk membahagiakan mu.

Inshallah, cita – cita papa akan segera terwujud yaa..

Aamiin ya rabbal’alamin 🙏

Begitulah, sedikit cerita saya tentang sosok papa.

Sejauh ini, temen-temen punya kesan apa yang melekat pada ayah ? Cerita di komen yukk..

26 Replies to “Untuk Papa : Tak Cukup Hanya Terima Kasih”

  1. Kasih sayang seorang bapak tidak akan pernah tergantikan dengan apapun bahkan materi. Bapak memberikan seluruh hidupnya untuk membesarkan anaknya melalui hasil keringatnya. Aku jadi kangen bapak aku.

  2. Sedih akuuu.. Jadi Inget bapak

  3. Galak! Hahaha.. kesannaku ke bapak. Ak sering banget “berantem” hanya karena ak gak boleh nginep di rumah teman atau datang ke pesta sweet 17 teman yang pulangnya di atas jam 9 malam.

  4. Ilmu yg sangat bermanfaat dari papanya mbak. Semoga bengkelnya segera terwujud yaa, amin…

  5. Wah jadi inget papa saya sendiri. Selamat ya mba, mba punya papa yang baik. Karena tak semua anak perempuan bisa menjadikan papanya sebagai cinta pertama dalam hidupnya.

    1. Alhamdulillah mba, bisa menjadi tauladan baik buat menjalani kehidupan ini.

Tinggalkan Balasan ke Esthy Wika Batalkan balasan