Yuk! STOP Pneumonia pada anak dengan 3M

pneumonia anak

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar penyakit Pneumonia? Begitu mendengar Pneumonia, pikiran saya langsung melayang ke pasien balita yang saya temui saat menjenguk saudara di rumah sakit.

Mohon maaf, kondisinya bikin hati saya sedih. Fisiknya lemah lunglai, terpasang nebulizer di bagian hidung dan mulutnya. Sesekali terdengar batuk-batuk dan rengekan kecil, sudah tak sanggup mengeluarkan tenaga untuk menangis.

Ah! ibu mana yang tega melihat buah hatinya tak berdaya seperti itu.

Ada pula cerita ibu yang tak mampu membiayai biaya rawat inap anaknya yang terkena Pneumonia. Ibu ini tinggal bersama suami dan balitanya di sepetak kamar kos ukuran 5 x 5 meter, padat penduduk. Ventilasinya kurang bagus, sehingga udara cenderung lembab.

Suatu ketika anak tersebut batuk tapi tak sembuh-sembuh. Setelah seminggu lebih, ibu itu baru membawa balitanya ke dokter. Betapa terkejutnya, bahwa buah hatinya bukan sakit batuk biasa melainkan menunjukkan gejala Pneumonia. Kalau tak segera ditangani, kondisi fisiknya bisa semakin buruk. Sekarang ibu itu sedang menggalang donasi untuk pengobatan anaknya.

Kisah di atas adalah sepenggal kisah yang membuktikan bahwa musuh terbesar masa depan yang harus dihadapi generasi penerus, salah satunya yaitu penyakit dari kuman jahat.

Pertanyaannya sekarang, bekal apa saja yang orang tua sudah siapkan mencegah penyakit pneumonia yang bebas berkeliaran dimana saja?

Sebelum saya bahas, bagaimana cara STOP Pneumonia pada anak, mari kenalan dulu dengan penyakit Pneumonia.

Mengenal Pneumonia (Radang Paru Paru)

Pneumonia merupakan penyakit pada paru-paru. Penyebabnya berasal dari bakteri, virus, jamur yang masuk melalui hidung dan saluran pernafasan kemudian menyerang paru paru. Penyebab Pneumonia yang paling sering ditemukan di Indonesia, berasal dari bakteri dan virus.

Paru paru penderita pneumonia tak bisa bekerja maksimal. Sebab kantung udara di paru terisi cairan. Membuat pernafasan jadi sesak dan asupan oksigen berkurang. Sehingga membuat penderitanya sering batuk hingga sesak nafas.

Penyebab Pneumonia

Sumber gambar : sesi zoom Hari Peringatan Pneumonia Dunia 2020

Dokter spesialis anak, Prof. Soedjatmiko saat sesi YouTube live Hari Peringatan Pneumonia Dunia 2020 menerangkan bahwa, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu kekebalan bayi dan balita menjadi rendah sehingga mudah terserang Pneumonia seperti sering kena asap rokok, ventilasi di rumah yang kurang baik sehingga banyak debu dan asap, kurang diberi ASI, gizi kurang, imunisasi yang tak lengkap, berat lahir rendah, punya penyakit kronis.

Bila bakteri Pneumonia dibiarkan bisa menyerang sampai ke otak. Kalau sudah sampai ke otak bisa menyebabkan penyakit meningitis atau radang selaput otak. Saya jadi teringat beberapa artis dan orang yang saya kenal harus kehilangan nyawanya setelah berjuang melawan meningitis. Jangan sampai meningitis terjadi pada anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih rendah.

Seringkali penderita Pneumonia sudah kesulitan bernafas saat dibawa berobat. Sehingga dipasangi nebulizer untuk membantu pernafasannya. Sumber gambar : dok.pri

Ada pertanyaan, kok bisa anak saya kena Pneumonia, padahal sirkulasi udara di rumah baik dan ngga ada yang merokok?

Jawabannya, pneumonia juga bisa disebabkan oleh bakteri, virus, jamur atau parasit dari cipratan liur orang sakit yang menempel di permukaan benda-benda di luar rumah.

Makanya, orang tua perlu melatih anak membiasakan rutin cuci tangan pakai sabun sejak dini. Segera ganti pakaian, setelah keluar rumah.

Kenali gejala Pneumonia


Gejala awal pneumonia ini mirip seperti batuk biasa. Seringkali pasien pneumonia datang ke dokter saat nafas anak sudah ngos-ngosan akibat kesulitan bernafas.


Sumber gambar : stoppneumonia.id          

✔ Biasanya anak yang terkena pneumonia akan menunjukkan gejala batuk. Batuk cenderung mngeluarkan dahak warna putih, kekuningan dan kehijauan.
✔ Nafas cepat. Semakin kecil usia bayi, frekwensi nafas per menit makin cepat.
✔ Sesak nafas. Pada bayi nampak begitu jelas, sebab terlihat cekungan dinding di dada. Dokter menyebutnya retraksi.
✔ Demam.

Kalau anak sudah menunjukkan tanda-tanda di atas, segera bawa ke dokter supaya tak terlambat ditangani.

Apakah pneumonia bisa menular?

Bisa. Bila ada orang disekitar anak yang batuk-batuk kena pneumonia, kemudian kena cipratan air liurnya, maka bakteri dan virus pneumonia akan mudah masuk ke saluran nafas menuju paru paru anak.

Untuk mencegah penularan pneumonia pada bayi dan balita, Prof. Soedjatmiko berpesan, “Jangan dekat-dekat dan mencium anak, bila ada keluarga yang sakit batuk pilek. Supaya anak ngga ketularan virus, keluarga harus pakai masker, rajin cuci tangan dan segera berobat untuk memutus rantai penularan.”

Fakta Pneumonia di Indonesia

Lebih dari 800.000 balita tiap tahun di dunia atau lebih dari 2.000 per hari meninggal akibat pneumonia. Angka ini lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah kematian balita karena penyakit lain seperti diare dan malaria. [1]

Jika tak segera ditangani, dikhawatirkan 11 juta balita akan meninggal karena Pneumonia di tahun 2010 saat Sustainability Development Goal (SDG) berakhir. Saya jadi merinding sendiri, begitu tahu prediksi ini.

Bagaimana dengan Pneumonia di Indonesia?

Indonesia adalah salah satu dari tiga negara yang menunjukkan progres baik diantara 30 negara dengan beban Pneumonia tinggi di dunia. Tapi menurut data Kemekes, dari lima kematian balita, satu diantaranya disebabkan pneumonia. Yang artinya Pneumonia masih tetap jadi penyebab utama kematian bayi dan balita di Indonesia.


Sumber gambar : Sesi Youtube live Hari Peringatan Pneumonia Dunia 2020

Dari data di atas terlihat, angka kejadian pneumonia pada bayi dan balita di Indonesia pada tahun 2017 hingga tahun 2019 mengalami penurunan.

Perlu diketahui, penyumbang kasus pneumonia di tahun 2020, beberapa orang diantaranya kemungkinan berasal dari virus covid-19.

Jumlah realisasi kasus Pneumonia tahun 2019 sampai awal tahun 2020 sebanyak 466.524 kasus atau 52,7% dari estimasi jumlah kasus di tahun 2019. Kemungkinan masih banyak kasus yang tak terdata karena penderita Pneumonia tak mengakses layanan kesehatan.

Jumlah kasus Pneumonia di Jawa Barat sebanyak 104.866. Peringkat selanjutnya diraih Jawa Timur sebesar 89.361 dan disusul DKI Jakarta 46.354 kasus.

Sedangkan angka Pneumonia tertinggi terjadi di Nusa Tenggara Barat sebesar 6,38% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 6,05%, masih jauh diatas rata-rata Nasional yaitu 3,55%.[2]

Yuk! STOP pneumonia pada anak

STOP Pneumonia yaitu kampanye yang digagas oleh Save The Childrenyang melibatkan pihak terkait dengan tujuan mencegah Pneumonia pada bayi dan balita dengan cara:
1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang Pneumonia dan pengenalan tanda-tanda bahaya pada anak.
2. Mencegah, perlindungan dan pengobatan Pneumonia yang mengacu pada Kerangka Kerja Penanganan Pneumonia.
3. Membangun kerja sama dengan pemangku kepentingan untuk mengatasi Pneumonia.

STOP sendiri merupakan singkatan dari

S untuk ASI ekslusif enam bulan, menyusui ditambah MPASI sampai 2 tahun.
T untuk Tuntaskan imunisasi anak.
O untuk Obati ke fasilitas kesehatan bila anak sakit.
P untuk Pastikan kecukupan gizi anak, hidup bersih dan sehat.

Sebetulnya Pneumonia pada anak dapat dicegah dan ditangani secepatnya bila menerapkan pendekatan 3M (Melindungi, Mencegah, Mengobati).


Melindungi

Dengan menjalankan pola pengasuhan baik, memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama kehidupan, pemberian MPASI gizi lengkap sesuai anjuran WHO yaitu tepat waktu, adekuat, aman dan diberi dengan cara yang benar.

Paspor kesehatan anak: Buku pegangan saya pasca melahirkan. Sumber gambar: dok.pri

Wawasan pola pengasuhan anak, saya dapatkan pertama kali dari buku kesehatan ibu dan anak yang diberikan oleh tenaga kesehatan dimana tempat saya melahirkan. Punya saya bernama paspor kesehatan anak. Isinya cukup lengkap, ada panduan perkembangan anak dan grafik tumbuh kembang anak.

Bisa juga unduh aplikasi Primaku di smartphone untuk pemantauan tumbuh kembang, disana tinggal masukkan data anak, berat badan, tinggi badan, tanggal lahir.

Mencegah

Mencegah pneumonia dengan cara:

  • Hindari kontak fisik dengan keluarga yang sedang batuk pilek.
  • Rajin cuci tangan, memakai sabun.
  • Hindari asap rokok. Ayah punya peran penting untuk menjaga kesehatan anak. Dengan menerapkan gaya hidup sehat dan tidak merokok. Beruntung suami saya bukan perokok, dan ini salah satu pertimbangan saya mau menikahinya.
Sumber gambar : stoppneumonia.id

Pesan buat ayah perkokok aktif :
Penelitian menyebutkan anak yang hidup bersama perokok, punya masalah pernafasan dibawah kelayakan kesehatan. Walaupun tak terpapar langsung, asap rokok bisa menempel dimana saja, seperti di dinding, lantai, sprei, pakaian dan sebagainya. Daripada dibelikan rokok, lebih baik uangnya dibelikan makanan bergizi untuk anak. Setuju?

  • Memastikan sirkulasi udara di lingkungan tempat tinggal baik, tak berasap.
  • Memberikan vitamin A pada anak. Biasanya vitamin A diberikan gratis dua kali setahun saat posyandu atau datang ke puskesmas. Vitamin A berperan untuk pertumbuhan dan bisa menurunkan resiko bayi dari berbagai kuman bakteri dan virus penyebab penyakit.

Memberi imunisasi lengkap

Saya selalu pantau jadwal imunisasi di paspor kesehatan anak. Berikut imunisasi dasar yang bisa membantu mencegah pneumonia.
✔ Imunisasi campak dan rubella (MR), bisa mencegah Pneumonia karena virus campak.
✔ Imunisasi DPT, bisa mencegah Pneumonia dari bakteri pertussis.
✔ Imunisasi BCG, bisa mencegah Pneumonia dari bakteri tubercolosis.

✔ Imunisasi Hib dalam vaksin Pentabio, bisa mencegah Pneumonia dari bakteri Hib. Oiya, semua imunisasi ini tersedia gratis di puskesmas.

Selain imunisasi dasar di puskesmas, saya juga memberi tambahan imunisasi PCV

Memutuskan memberi imunisasi PCV pada bayi


Memutuskan imunisasi PCV saat kakak berusia 2 tahun. Sumber gambar : dok.pri

Saat usia anak 2 bulan, saya sempat galau melihat jadwal imunisasi IDAI. Sebab ada 2 jenis imunisasi yang perlu pendanaan mandiri yaitu vaksin PCV dan vaksin rotavirus.

Untuk mencegah bakteri Pneumokokus, Prof. Soedjatmiko menyarankan imunisasi tambahan yaitu imunisasi PCV dan imunisasi influenza. Setelah saya cari tahu dan googling lebih dalam tentang Pneumonia, bakteri yang paling sering menjadi pencetus Pneumonia di Indonesia yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) dan bakteri Haemopilus influenza. FYI, kedua imunisasi ini, tak ditanggung oleh pemerintah.

Terlihat jadwal imunisasi PCV sebanyak 4 kali, mulai dari anak usia 2 bulan. Sumber gambar: dok.pri

Nonton parenting class dr. Tiwi, spesialis anak di YouTube, membuat saya sadar bahwa seiring perkembangan zaman akan ada banyak penyakit ganas. “Lebih baik mencegahnya dengan imunisasi daripada mengobati,” ucap dr. Tiwi.

Tahu fakta pneumonia salah satu penyakit ganas yang harus diwaspadai karena sering menyerang bayi dan balita. Serta menjadi penyebab kematian utama pada bayi dan balita. Membuat saya mikir panjang.

Melihat anak sakit batuk, pilek, demam rasanya sudah ngga tega. Istirahat terganggu, susah menelan makanan, kalau udah begini saya ikut sedih. Saya ngga mau ambil resiko buruk untuk anak kami di masa depan. Dokter anak saya bilang, imunisasi yang cocok untuk mencegah bakteri Pneumokokus yaitu imunisasi PCV. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami memutuskan membeli imunisasi PCV.

Mengobati

Segera berobat dan minta pertolongan tenaga kesehatan bila anak menunjukkan gejala Pneumonia. Jangan sampai telat membawanya ke tenaga kesehatan, sebab penderita Pneumonia cepat mengalami perburukan dan hilang kesadaran akibat kekurangan oksigen karena sesak nafas.  

***

Semoga dengan kampanye STOP Pneumonia, calon orang tua lebih memperhatikan kwalitas kesehatan anak supaya terhindar dari penyakit berbahaya dan cepat tanggap bila anak menunjukkan gejala Pneumonia.

Harapan saya, semoga pemerintah kedepannya bisa menyediakan vaksin PCV di seluruh Indonesia supaya angka Pneumonia bisa terus ditekan. Aamiin.



Sumber referensi :
[1] Save the Children, Fighting for Breath; Call To Action, 2019
[2] Profil Kesehatan Indonesia, 2019

24 Replies to “Yuk! STOP Pneumonia pada anak dengan 3M”

  1. Anakku yang kecil termasuk yang lumayan sering dinebu, Mbak. Dan emang sih kalau ada dananya sebaiknya vaksin PCV. Semoga juga pemerintah bisa memasukkan vaksin ini sebagai salah satu vaksin wajib yang disubsidi pemerintah supaya anak Indonesia bisa bebas pneumonia.

  2. Cara pencegahannya ternyata bisa banget dilakukan sendiri ya mba, dengan memberikan ASI dan mpASI yang baik, serta menjaga kebersihan lingkungan, bisa mencegah penyakit pneumonia.

  3. ya ampun fotoe kimi sik imut hehehe
    mama kimi emang keren
    ulasan jelas dan gamblang, pantes kalo juara

Tinggalkan Balasan