Melahirkan Anak Kembar

melahirkan bayi kembar

Tiap tahapan perjalanan manusia selalu menemukan jalannya tersendiri dan inilah secuil kisah proses persalinan keduaku.

Saya      : Ma, dulu waktu ngelahirin aku gimana ? Sakit nggak ?

Mama   : Dulu kamu itu lahirnya lama, soalnya anak pertama jadi harus nyari jalannya dulu. Beda sama anak kedua dan ketiga. Lebih gampang mereka.

Saya       : Terus pas hamilnya gimana ma ?

Mama   : Pas hamil kamu, papa sering beliin degan, buah-buahan tiap hari. Makanya pas lahiran kelihatan putih bersih kaya orang korea, (eh) beda sama adekmu yang kedua. Dimakanin buah kok malah diare. Akhirnya pas liat pertama adekmu agak kaget, loalah kok gosong toh le (kok agak gelap kulitnya toh nak).

Saya       : *ngakak* BUAHAHAHAK

Itu tadi sekelumit perbincangan dengan mama tiga orang anak sebelum resmi giliran saya yang menjadi mama dari tiga orang anak. Persis seperti kata beliau, tiap hamil hingga melahirkan kondisinya selalu berbeda. Tentu hal tersebut dipengaruhi oleh hormon kehamilan maupun kondisi fisik ibu hamil.  

***

 

Tidak terasa juga usia si kembar sudah dua bulan, dan saya baru sempat menuliskan cerita kelahirannya sekarang. Waktu cepat berlalu yaa…

Dibanding kehamilan pertama, di kehamilan kedua ini saya lebih deg-degan untuk menghadapi hari kelahiran. Yang bikin was-was, tiap kontrol dan USG ke dokter kandungan posisi kepala janin tidak pernah menghadap ke bawah (mendekati jalan lahir). 

Saat di USG :

Posisi yang janin satu lintang, janin dua miring,

Posisi yang janin satu sungsang, janin dua kepala di bawah,

Posisi kedua janin sama-sama sungsang,

Posisi kedua janin sama-sama miring,

Intinya kedua kepala janin tidak pernah sama-sama di bawah.

Terus saya ketemu seorang teman di WAG, dimana dia berhasil melahirkan bayi kembar normal dengan berat masing-masing janin hampir 3 kg. Lalu saya tanya, apa saja tips supaya bisa melahirkan normal bayi kembar. Dia menyarankan banyak berdoa, banyak usaha, dan sedekah. Jika usia kehamilan telah masuk usia kehamilan 27-28 minggu, yang terpenting janin tetap bisa dipertahankan hingga usia kehamilan minimal 36 minggu. Saran tersebut benar-benar saya lakukan.

 

melahirkan bayi kembar
Ritual menjelan lahiran. Dikirim seorang teman dari WAG yang berhasil melahirkan normal bayi kembar.

melahirkan bayi kembar

Saya coba googling, usia kehamilan bayi kembar rata-rata hanya sampai 37 minggu. Sangat jarang ditemui sampai dengan usia kehamilan 39-40 minggu. Banyak kasus kelahiran prematur.

Saat periksa ke bidan, saya pun bertanya. Faktor apa yang menyebabkan janin kembar tidak bisa dilahirkan secara normal di bidan ?

  1. Jika posisi kepala salah satu janin saja melintang. Meski posisi sungsangpun masih bisa dilahirkan dengan normal. Tentu dengan resikonya tersendiri,
  2. Jika air ketuban sudah habis, namun janin tidak kunjung keluar dari rahim,
  3. Preeklamsia,
  4. Placenta pevia totalis,
  5. Lahir prematur, tutur bu bidan.

Dari beberapa yang disebutkan, yang kemungkinan terjadi adalah nomer satu dan nomer lima. Alhamdulillah tensi selalu normal dan tidak pernah ada keluhan menghawatirkan bagi saya maupun janin. 

Ketika usia kehamilan mendekati 37 minggu, melihat perkembangan USG yang tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, dokter saya sudah atur jadwal untuk melahirkan secara caesar. Dokter bilang, kemungkinan kepala kedua janin untuk memutar kearah bawah mendekati jalan lahir sangatlah kecil, karena ruang di rahim telah sempit. 

Waduhh saya langsung frustasi, membayangkan operasi, membayangkan bagaimana sakitnya luka bekas operasi pascamelahirkan, belum lagi ngurusin dua bayi sama kakaknya. Omaigat

Menjelang masa kelahiran pak Suami harus dinas ke luar kota, sama persis seperti saat melahirkan Kimika dulu. Untung sekarang ada adek saya di rumah, semisal terjadi kondisi darurat, masih ada yang nganterin ke rumah sakit.

Dokter menjadwalkan operasi caesarea tepat pada usia kehamil 38 minggu yang jatuh pada tanggal 12 Maret. Saya hanya bisa pasrah, berdoa, memperbanyak sujud, gerakan mengepel, jalan jongkok, sambil berharap siapa tahu diberi keajaiban tiba-tiba kepala kedua janin bisa muter kearah bawah. Terus terang, di kehamilan kedua ini saya merasa salah strategi melakukan gerakan sujud seperti gambar diatas. Harusnya sudah dimulai sejak trimester kedua, bukannya mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL).  

Saat melahirkan Kimika, saya diberi firasat berupa mimpi melihat wajah bayi beberapa hari sebelumnya. Sampai dengan menjelang hari kelahiran, saya tidak mendapat firasat apa-apa. Hingga saya terbagun sebelum waktu subuh, untuk mengambil air minum.

Kok ada yang aneh..

Seperti keluar urine begitu saja, meski tidak sedang ingin pipis. Masa iya mau lahiran, mules aja belom, pikir saya. Lalu saya telepon orang tua, menceritakan keadaan yang barusan terjadi.

Itu air ketuban namanya, ndang (buruan) berangkat ke rumah sakit, ojo (jangan) ditunda-tunda, kata mama. Maklum belum pernah merasakan air ketuban merembes duluan. Saat melahirkan pertama kali, ketuban baru dipecahkan dokter ketika bukaan sudah lengkap.

Tidak lupa telepon suami, agar siap-siap pulang semisal langsung melahirkan hari itu juga.

Saya jadi ingat pesan instruktur senam hamil. Dia berpesan jika terjadi tiga tanda kelahiran ini segera berangkat ke rumah sakit, antara lain :

  1. Keluar bercak darah (bisa bercampur dengan urin atau air ketuban),
  2. Rembesnya air ketuban (ditandai dengan keluarnya urine yang tidak terkontrol, rasanya seperti saat menstruasi),
  3. Kontraksi dengan frekuensi sering (perut rasanya kenceng-kenceng tiap beberapa detik, disertai rasa ingin mengejan, rasanya persis seperti kebelet boker)

Untung semua kebutuhan selama di rumah sakit sudah saya persiapkan sebelumnya. Tinggal bawa terus berangkat deh.

BERANGKAT KE RUMAH SAKIT

Hari itu, rasanya sama seperti hari normal biasanya.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, saya mandi dulu, masih sempat sarapan dulu (takut kelaperan disana). Belum ada kontraksi sama sekali, sehingga saya masih bisa beraktifitas normal. Masih sempet update twitter dulu pula.

Untung aja rembes air ketubannya sejak pagi dini hari, sewaktu adek belum berangkat kerja. Cobak rembesnya siang atau sore, bisa bisa saya naik ojek online atau taxi sendiri. HIKSHIKS

Sampai di rumah sakit, saya langsung jalan pelan-pelan ke bagian admission, setelah itu diantar petugas menggunakan kursi roda ke ruangan tempat melahirkan.  

Disambut perawat dan bidan dengan cek denyut jantung janin, cek dalam, cek tensi. Sewaktu dicari denyut jantung janin posisinya satu janin masih melintang, yang satu lagi sungsang.

“Sudah ada bukaan satu, posisi kepalanya masih jauh,” kata perawat.

Dari hasil pemeriksaan kertas lakmus, memang benar air ketuban sudah merembes. Denyut jantung dan tensi masih normal.

Tanpa menunggu lama, saya disuruh menandatangani sejumlah dokumen persetujuan dari rumah sakit. Ada konfirmasi dari dokter untuk segera membawa saya ke ruangan operasi. Rupanya dokter sudah ada jadwal caesarea dari pagi. Kok pas banget ya, batin saya.

Selama menuju ke ruang operasi saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Daripada saya harus berjuang lebih dulu melahirkan normal namun ujung ujungnya harus dilahirkan caesar. Daripada menerima sakit yang lebih berlipat-lipat karena melahirkan normal dan caesar (sakit atas dan bawah). Mungkin ini udah jalanNya, semua sudah diatur sama Yang Diatas, tinggal ikhlas menerima kok repot.

 

DINGINNYA RUANG OPERASI

Sebelum masuk ruang operasi saya disambut dokter anak favorit saya. Kenapa favorit, soalnya beliau humoris.

Gimana bu, ndak usah tegang, santai aja”, kata beliau.

Iya dok, yang sekarang harus operasi nih”, sahut saya. Aslinya masih belum ikhlas tapi mau gimana lagi.

Lalu saya diminta untuk pindah tempat tidur, dan dibawa ke ruang operasi.

Semua telihat hijau, ruangannya juga pakaian yang dikenakan dokter dan timnya.

Saya diberi selimut tebal dan dipasangi kateter. Setelahnya diminta untuk miring kearah kanan, posisi kaki ditekuk dan agak membungkuk.

“Tenang ya bu, jangan tegang”

Di bagian dekat tulang belakang terasa dingin saat diusap-usap, lalu terasa sakit seperti digigit semut merah. Beberapa saat kemudian, di sekujur kaki terasa kesemutan. Setelahnya kaki saya mati rasa, tidak bisa digerakkan.

Ada sedikit rasa lega, ketika mengetahui dokter anestesi tadi perempuan.

Dokter SpOG     :  “Suaminya mana mbak ?”

Saya                   : “Masih perjalanan dari luar kota dok”

Dokter SpOG     : “Wah  saknoe (kasihan) rek”

Saya                   :  Cuma bisa meringis nelangsa

Dokter SpOG    :  “Ndak usah tegang ya mbak”, “Asline mbak iki (ini) masih berharap normal”, beliau memberitahukan ke rekan rekannya.

Beberapa saat kemudian terdengar seruan dari seseorang,

Pada hari ini…tanggal…jam…akan dilaksanakan sectio caesarea gemeli Nyonya…

“Bismillah semoga lancar Ya Allah,” bisik saya

Selama operasi tiap orang wira wiri berseliweran, saya hanya bisa melihat bayangan dokter sedang mengoperasi dari kaca. Entah kenapa rasanya tiba-tiba belakang pundak rasanya sangat berat dan pegal, kepala menjadi pusing.

Tidak lama kemudian saya merasa mual dan pengen muntah. Saya minta tolong salah seorang dari tim untuk memijat bagian belakang pundak saya agar pegelnya berkurang. Setelah dipijat, bagian pundak terasa lebih ringan.

Tidak lama kemudian, seseorang yang memijati saya pun harus sibuk mondar mandir membantu dokter. Seketika itu juga saya mual dan langsung muntah aja, soalnya udah nggak kuat nahan mual. (Ini efek saya nggak puasa dulu pra operasi).

“Jangan tegang bu”, sambil dipijat lagi.

 Beberapa menit kemudian…

“Selamat bu.. bayi satu sudah lahir, perempuan”. Sambil diiringi suara tangisan bayi.

Selang beberapa detik kemudian.

“Selamat bu.. bayi kedua sudah lahir, perempuan juga”. Tangisannya tidak kalah keras dengan bayi pertama.

“Bayinya saya observasi dulu ya bu”.

melahirkan bayi kembar

Durasi operasi terasa begitu cepat, hanya memakan waktu setengah jam. Setelah selesai saya dibawa ke ruang pemulihan.

Entah kenapa badan saya rasanya seperti menggigil kedinginan, padahal suhu ruangan tidak begitu dingin dibanding ruang operasi. Sampai sekujur tubuh ikut bergetar. Lalu saya diselimuti selimut tebal hingga kepala.

Selang beberapa menit bapak, ibu dan adek diperbolehkan menemui saya.

Sampai disini dulu ya ceritanya, kondisi saya dan si kembar pasca operasi akan ditulis di postingan selanjutnya. Selamat menunggu..  

  

  

   

9 Replies to “Melahirkan Anak Kembar”

  1. masya Allah, berkah mbaa.. saya masih ndidam2kan punya anak kembar hihi ini lagi hamil kedua juga 🙂

    1. Semoga lancar ya mbak sampai lahiran nanti ☺

  2. bayangke operasi ngilu fun

    wedii..

    jek sadar ta bar di suntik?

    1. Masih lah, kan gak dibius total. Udah ga usah dibayangin nyerinya, bayangin aja ngeliat muka 2 bayek unyu setelahnya. Hihi

  3. Duhhh gemessnya dedek kembar.. semoga jadi anak yg soleha, sehat dan selalu membanggakan keluarga dan Agama yaaa dekkk.. Aamiin Yaa Rabb..

    Btw siapa Mbak nama baby twincess nyaaa??

    1. Amiin.. Makasih onty cantik..
      Moga cepet nyusul yaa..
      Namanya baby I sama baby L 😬

  4. Suka takjub sama yang punya anak kembar mba, selamat ya

    1. Makasih mbak San 😊

  5. Bagus banget artikelnya sis sanat membantu buat ibu2 yg hamil kembar dan takut untuk d oprasi

Leave a Reply