Modyarhood : Tentang Inkonsistensi Mendidik Anak

cara mendidik anak usia 3 tahun

Prinsip dasar cara mendidik anak

Sejak mengandung anak pertama, saya jadi rajin banget cari tahu tentang segala macam hal berkaitan dengan anak. Salah satu yang menjadi fokus perhatian adalah tentang cara mendidik anak.

Apalagi sekarang, saya sudah dihadapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda dari zaman saat saya masih kecil dulu. Dimana dulu teknologi belum berkembang pesat seperti sekarang, buku masih dijadikan sarana utama untuk menyelami dunia luar, bermain bersama teman di alam bebas merupakan suatu rutinitas.

Setelah membaca buku Enlightening Parenting dari Ibu Okina Fitriani dkk, saya jadi paham bekal apa saja yang harus dipunyai agar sukses mendidik anak. Beberapa prinsip dasar cara mendidik anak yang penting yaitu konsisten dan kongruen.

Konsisten artinya teguh dan fokus pada tujuan, sedangkan kongruen bermakna selaras dan sebangun. Bila dua kata sifat ini digabungkan maka bermakna bahwa orangtua harus berpegang teguh pada tujuan utama untuk menjaga potensi baik anak dengan cara menjadi teladan, senantiasa mengingatkan serta memperbaiki.

Konsisten dan kongruen ini merupakan prinsip dasar mendidik anak yang saling melengkapi satu sama lain. Supaya tujuan tercapai, keduanya harus selaras dan seirama.

Orangtua sebagai teladan

Makna dari “teladan” yaitu sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan lain sebagainya). Sebagai teladan bagi anak, tentunya sikap dan perilaku orangtua harus kongruen dengan nilai-nilai yang ditanamkan pada anak.

Contohnya :
Ketika saya melarang anak jajan sembarangan, berarti saya pun harus tak jajan sembarangan. Bisa dengan cara membuat jajan sendiri di rumah atau menyediakan stok jajanan di rumah, sehingga anak tak ada keinginan untuk jajan di luar.

Pertanyaannya sekarang :

Sudahkan saya konsisten dan kongruen dalam mendidik anak ?

Jawabannya masih belum bu ibu. *tolong jangan dihujat ya 😞

 

via GIPHY

 

Konsisten dan kongruen mendidik anak menjadi salah satu pe-er yang sedang saya kerjakan dan terus diupayakan.

Berhubung tema modyarhood kali ini tentang inkonsistensi mengajarkan anak, jadi saya mau curhat tentang beberapa perilaku saya yang masih belum konsiten dan kongruen dalam mendidik anak sampai sekarang, antara lain :

 

📱Ketergantungan gawai 📱

Saya yakin permasalahan ini banyak dialami oleh rata-rata ibu – ibu zaman now.

Kakak termasuk dalam kategori anak aktif yang mana susah diajak duduk anteng. Maunya jalan kesana kemari.

Awalnya gawai hanya dipakai saat situasi dan kondisi tertentu saja, seperti saat sedang berada di tempat keramaian. Daripada kakak lolos dari pantauan, lebih baik kakak diam duduk saja sambil menonton video di gawai.

Hingga dihadapkan suatu fase gerakan tutup mulut atau beken disebut GTM. Berusaha mencari penyebabnya dengan konsultasi ke dokter namun hasilnya kakak sehat- sehat saja.

Merasa mulai putus asa, akhirnya gawai dipakai sebagai solusi mengatasi permasalahan GTM kakak. Ajaibnya berhasil 🙄

Kabar buruknya kebiasaan ini masih berlangsung sampai sekarang. Sudah berusaha mengalihkan dengan kegiatan lain seperti, mengajak bermain atau melihat binatang namun sering gagalnya 😔

Sebelum disuapi kakak pasti nagih, “hape.. hape..” Zzz..

Daripada anak nggak makan terus jadi kurus dan gampang sakit yang susah juga orangtuanya. Serba repot sih 😣

Yang bisa saya lakukan sekarang, hanya sounding berulang-ulang ke kakak, bahwa hape itu bisa merusak mata. Akibatnya harus pakai kacamata seperti saya.

Mungkin nanti bila kakak sudah sekolah, saya akan lebih tegas lagi pada aturan penggunaan gawai.

 

🍛Tak boleh makan di kamar tidur 🛏

Salah satu kebiasaan buruk yang masih sering saya lakukan sampai sekarang. Kok jadi buka aib sendiri gini yah 😢

Penyebab saya melanggar aturan ini adalah seringkali baru makan dua suap atau bahkan baru akan mulai makan, tiba-tiba terdengar tangisan adik twins dari dalam kamar. *Kebiasaannya adik twins baru bangun tidur terus bingung nyariin mamanya.

Berhubung perut udah mulai mengeluarkan suara sumbang pertanda protes, hasrat makan tak bisa ditunda. Harus segera ditunaikan.

Akhirnya makanan beserta piring, saya bawa ke kamar.

Bisa dibilang win win solution..  Saya bisa terus makan dan adik twins tuntas nangisnya. lol 🤣🤣

Parahnya saya juga sering lupa ngasih makan adik twins di kamar. Abisnya mereka suka nodong makanan saya pas saya lagi makan di kamar
😪

Yang sabar nak..

Bila kakak udah mulai rewel menunjukkan tanda tak sabaran, secara spontan saya bilang, “sabar ya kak”.

Sebaliknya, beberapa kali saya pernah lepas kontrol marah – marah bernada tinggi ke kakak, melakukan tindakan fisik seperti mencubit, mengeluarkan kata – kata untuk melabeli perilaku anak – anak di saat mereka mulai bertingkah.

Contoh perkataan melabeli anak :
Sewaktu kakak merengek minta gendong, terus saya bilang, “Kak jadi anak manja bener sih”.

Saya paham bahwa perkataan adalah doa. Untuk itu, saat ini saya sedang berusaha menahan diri mengucapkan kata – kata negatif meskipun realitanya susah lho bu ibu 😔

Yang bisa saya lakukan sekarang saat marah, berusaha perbanyak menyebut astagfirullahaladzim ketimbang melontarkan kata – kata negatif.

Gosok gigi sebelum tidur

Kebiasaan sebelum tidur yang sering saya lewatkan di kala ngantuk melanda dan badan susah diajak bekerjasama untuk sekedar menunaikan rutinitas gosok gigi bersama kakak.

Sebagai contoh dari anak – anak, sudah seharusnya saya bisa melawan malas dan ngantuk walaupun prakteknya butuh perjuangan mengabaikan iming – iming bantal guling empuk. lol  

Kurang lebih seperti inilah beberapa pengakuan ketidakkonsistenan dan ketidakkongruenan saya saat mendidik anak 😢

 

Lewat artikel ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa menjadi ibu tak melulu harus benar dan sempurna. Sebab yang sempurna hanya milik Sang Pencipta. Yang terpenting adalah kita mau mengintrospeksi diri dan terus belajar agar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

 

Minjem dari perkataan Ibu Septi Peni Wulandari, founder Institut Ibu Profesional :

“Anak bisa saja salah memahami perkataan kita namun tak pernah salah untuk mencopy

Nah, bu ibu punya pengalaman kurang konsisten dalam mendidik anak ? Boleh di share ya.

19 Replies to “Modyarhood : Tentang Inkonsistensi Mendidik Anak”

  1. Kalau mendidik anak sendiri aku masih sangat amat belajar karena susah sekali berusaha menjadi konsisten…

  2. Setuju, penggunaan gadget pada anak memang jadi masalah buibu jaman now banget ya. huhuhu. alhamdulillah, jadi berasa dapet pencerahan setelah baca postingan ini. Makasi sharingnya ya maaaaak

    1. Iya, Mbak. Kita nih emang kayak lagi bertarung melawan ketergantungan gadgets ya.
      Aku share cara bikin aturan main gadgets untuk anak di blogku, Mbak. Bisa donlod poster aturan main gadget gratis loh. Mampir, Mbak.

  3. Hmm.. Kadang tu aku tuh sedih kalo ingat belom bisa jadi teladan yang baik buat anak2. Dulu anak sulungku agak ketergantungan ama gadget, terus aku tegain biar dia nangis asal ga keterusan, alhamdulillah sekarang jarang nanyain hp kalo dibilang jangan dia ga nangis kek dlu

  4. saya juga banyak kok inkonsisten, kayaknya gak bisa jadi teladan buat si kecil. Intinya, mba nggak sendiri, sama-sama berjuang ya

  5. Saya pun masih inkonsisten mendidik anak, kayaknya gagal jadi teladan buat si kecil. Intinya kita sama mba, sama2 berjuang ya

  6. Setengah jam sebelum baca postingan ini, aku abis -melabeli- Anak pertamaku (5yo) dengan sebutan “gak nurut”, gara-gara anaknya gak mau tenang banget padahal udah dibilangi berkali-kali supaya jangan terlalu berisik karena adiknya baru aja tidur, pas adiknya kebangun karena kaget denger suara Kakaknya yang jatuhin hotwheels, akunya spontan teriak dan ngomel. Hikss, nyeselnya sekarang :'(

    Kesabaran seorang Ibu itu sangat-sangat diuji, padahal omelan juga kadang gak diperlukan, masih PR besar buatku nih. Tadi udah pelukan, udah dibilangin baik-baik, dan udah minta ma’af juga ke Anaknya. *wanna crayyy*

  7. Selain konsisten juga perlu kongruen ya mak. Duh, apa kabar aku yang masih newbie jadi orangtua 😅

  8. seneng banget, sekarang makin banyak yang peduli aspek parenting

    Karena anak ngga cukup asupan fisik, pendekatan psikis yang dulu diabaikan sekarang semakin diperhatikan. Sukses yaaaa …

Tinggalkan Balasan