Antologi Pulih, bukti kepedulian IIDN pada kesehatan mental ibu-ibu

antologi pulih ibuibu doyan nulis

Seringkali malam sudah larut, tetapi aku belum bisa memejamkan mataku
Terbayang tatapan matanya yang teduh dan semangatnya untuk segera sembuh.
Lalu rasa bersalah itu menghantam kepalaku, menyesakkan dadaku
Padahal sudah tiga tahun berlalu.

Kisah di atas adalah kutipan dari novel antologi Pulih yang baru Grand Launching melalui Bincang Pulih di zoom pada 17 Oktober 2020 lalu bersama
Widyanti Yuliandari, Ketua Umum IIDN yang mengulas tentang proses kreatif antologi Pulih,
dr. Maria Rini, Sp.KJ, Psikiater yang mengulas peran komunitas dan penulisan pulih dalam memelihara kesehatan jiwa
Intan Maria Halim, Founder Ruang Pulih yang mengulas tentang pencegahan masalah kesehatan mental melalui buku Pulih. Meski baru Grand Launching, sambutannya luar biasa lho! PO tahap pertama buku Pulih udah ludes dan sekarang sedang dalam proses pemesanan PO tahap kedua.

Mungkin kalian penasaran, apa istimewanya buku antologi Pulih sampai PO tahap pertama habis terjual?

Sebelum saya bahas lebih jauh tentang antologi pulih, yuk ulik lebih dalam bagaimana proses perjalanan kontributor selama menulis antologi pulih yang ternyata ngga mudah, penuh perjuangan dan air mata.

Peran komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) untuk menjaga kesehatan mental anggotanya

Selain aktif menulis di blog, anggota Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) juga aktif menulis buku serta melakukan pelatihan kepenulisan berkala. IIDN mewadahinya dengan cara aktif menerbitkan buku dengan beragam tema.

Sayangnya saya belum pernah menjadi kontributor buku IIDN. Doain yaa.. semoga kedepannya bisa ikutan nulis. Hihihi

Berawal dari rasa prihatin melihat status teman-teman di sosial media berisi curhat kepedihan dan kesedihan. Mba Widyanti Yuliandari, Ketua Umum IIDN yang akrab disapa Buketu merasa ikut prihatin sekaligus terpanggil ingin mewadahi unek-unek teman-teman.

Awal tahun 2020, divisi buku IIDN yang dipimpin oleh mba Fuatuttaqwiyah menyodorkan antologi bertema mental illnes pada Buketu.

Buketu ingin kontributor buku antologi bisa merasakaan manfaat lebih dari proses penulisan buku antologi. Ngga sekedar nulis bareng aja. Antologi harus bikin penulisnya belajar dan dapet benefitnya. Minimal, kontributor merasa lega sudah berhasil menuangkan kisah pedihnya ke dalam tulisan.Bisa pulih terobati setelah melalui proses menulis.

Tema kesehatan mental memang sedang mendapat perhatian banyak orang, terlebih saat pandemi seperti sekarang.

Menulis diyakini oleh pakar psikologi sebagai salah satu media penyembuhan sebagai katarsis yaitu cara pengobatan orang yang berpenyakit syaraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hati dengan bebas.

Untuk mencapai tahap ini, Buketu sadar perlu bantuan ahli untuk mendampingi kontributor supaya proses menuangkan ke dalam tulisan bisa lancar.

Syukurlah dipertemukan dengan mba Intan Maria Halim, Founder Ruang Pulih. FYI, Ruang Pulih adalah ruang belajar dan konsultasi psikologis (khususnya untuk perempuan dan anak-anak).

ruang pulih
Kunci bahagia keluarga, ibu harus bahagia lahir batin. Sumber: Ruangpulihdotcom

dr. Maria Rini, Sp.KJ, Psikiater bilang komunitas punya andil besar untuk memelihara kesehatan jiwa. Manusia adalah makhuk sosial, lewat komunitas tiap pribadi bisa saling support. Tak terkecuali perempuan, sebab peran perempuan di keluarga itu besar. Perempuan berhak mendapatkan kebahagiaan mental.

FYI, dr. Maria Rini, Sp.KJ pernah menemani proses pulih mba Intan saat mengalami baby blues, post partum depression (PPD) sampai ke pemulihan menjadi pribadi tangguh seperti sekarang.

“Saya salut dengan semangat dan komitmen kontributor untuk pulih. Bantuan terapi yang diberikan oleh mba Intan luar biasa perannya.”

dr. Maria Rini, Sp.KJ

Proses kreatif antologi Pulih

Bincang Pulih sekaligus grand launching antologi Pulih via zoom. Sumber: Buketu

Setelah proses seleksi kontributor antologi Pulih, terpilih 25 kontributor yang kisahnya akan dibukukan dalam buku Pulih.

Walau proses menuangkan ide ke dalam tulisan mengalami pasang surut, akhirnya buku Pulih bisa rampung sesuai jadwal.

Sempat mengalami beberapa hambatan seperti keterbatasan waktu, enggan mengulas lebih dalam karena berhubungan dengan aib, ngga didukung oleh keluarga dan lingkungan terdekat, kontributor berguguran, tulisan belum memenuhi kriteria dan sebagainya.

Dari hasil audisi, dibagi menjadi 2 grup penulis. Grup kontributor yang sudah pulih dan belum pulih. Bagi kontributor yang pulih bisa langsung menulis. Sedangkan kontributor yang belum pulih diberi pendampingan mba Intan sebagai konselor supaya bisa pulih.

Berikut tahapan proses kreatif antologi Pulih :
1. Penulisan naskah yang didampingi oleh konselor psikologi
2. Review dari tim IIDN
3. Revisi dari penulis
4. Review dari tim ahli
5. Editing
6. Pembuatan cover dan layout
7. Terbit

Peran mba Intan demi kelancaran proses kreatif kontributor sangat besar. Membantu kontributor pulih dengan terapi psikologis. Penasaran gimana prosesnya? Sabar akan saya ulas mendalam kok!

Pencegahan masalah kesehatan mental melalui buku Pulih

Setiap insan mempunyai kekuatan jiwa yang jauh melebihi apa yang diperkirakan jika melatih berani sekalipun takut, melatih kuat sekalipun lemah dan bertanggung jawab untuk mengusahakan yang terbaik bagi kehidupan, Intan Maria Halim – Coach & Counselor Pulih.

Tiap orang punya beberapa warna, warna itu yang mewakili kepribadiannya. Agar bisa pulih dan bangkit menjadi pribadi baru yang tangguh, tiap orang wajib menyadari trauma dan bukan kesalahan diri.

Sebab usaha untuk pulih adalah tanggung jawab masing-masing. Tugas konselor hanya sebagai pendamping yang akan menemani untuk sembuh.

Terapi yang diberikan mba Intan saat mendampingi kontributor saat menulis buku Pulih melalui Art Therapy.

Art Therapy

Art therapy mandala
Art Therapy dengan mewarnai mandala.

Saya pernah dengar tentang Art Therapy tapi belum pernah mendalaminya. Seneng bisa mendapat sedikit wawasan tentang Art Therapy dari pakarnya saat Bincang Pulih. Sebelum mengikuti Bincang Pulih, peserta diminta mewarnai mandala.

Berhubung saya dapat sketsa Mandala beberapa jam sebelum Bincang Pulih dimulai, saya warnai Mandala seadanya. Agak terburu-buru soalnya keburu digangguin bocil.

art therapy mandala
Art Therapy yang saya warnai buru-buru menjelang Bincang Pulih.

Berikut manfaat kegiatan mewarnai Mandala:
✔ Mandala membantu melatih konsentrasi, memisahkan keruwetan yang ada dan menyiapkan diri untuk menerima kehidupan.
✔ Mengajarkan jeda emosional. Jeda 6 detik untuk napas masuk dan napas keluar, sehingga ada waktu untuk berpikir.
✔ Merupakan salah satu bentuk self love. Tiap orang bebas mengekspresikan emosi lewat berbagai warna. Manfaatnya jiwa seperti diberi “makan” supaya kembali full.

Kontributor yang butuh dibantu untuk pulih diberi sesi Art Therapy. Sehingga saat menuangkan ide lebih lancar daripada sebelumnya, pikiran juga lega.

Mba Intan juga ngga segan mengingatkan, bahwa pulih itu tanggung jawab masing-masing. Kontributor diajak untuk mencintai diri sendiri, mengenali warna dalam diri, fokus pada edukasi psikologis lalu berusaha pulih.

Salut dengan usaha mba Intan yang total mendampingi kontributor hingga buku Pulih selesai.

Antologi Pulih, 25 Kisah Perjalanan Pulih dari Masalah Kesehatan Mental

Kisah 25 kontributor ini berbeda-beda. Ada yang sudah pulih dari permasalahannya dan ada yang belum pulih tapi punya keinginan untuk pulih.

Ada yang mengalami skizofrenia, ada yang merasa insecure, gagal move on, putus asa, terpuruk, ada yang punya trauma sejak kecil.

Sekilas kutipan kisah dalam antologi pulih yang ditulis oleh teman blogger, seorang single parent.

My Children, My moodbooster
Kenangan tentang suami
De.. selamat ya.. buku mu terbit lagi
Coba kalau kamu punya banyak waktu luang
Pasti kamu sudah menjadi penulis terkenal
De.. terima kasih sudah menjadi ibu yang hebat
Kamu sabar sekali menghadapi anak-anak
De.. maafkan aku selalu merepotkanmu
Aku pengen sembuh, aku ngga mau sakit lagi
De.. terima kasih sudah sabar merawatku
Nanti kalau sudah sembuh, aku mau menemanimu jalan-jalan kemana saja
De.. kenapa ngga jadi ambil S3 mu?
Uangnya habis untuk terapiku ya?
De.. terima kasih ya sudah rajin memasak
Tetapi kalau kamu capek, beli aja, ngga usah masak lagi, biar kamu bisa istirahat

Suara suamiku itu seolah-olah berbisik di telingaku.
Setiap malam selalu terngiang.
Seringkali malam sudah larut, tetapi aku belum bisa memejamkan mataku.
Terbayang tatapan matanya yang teduh dan semangatnya untuk segera sembuh.
Lalu rasa bersalah itu menghantam kepalaku, menyesakkan dadaku.

Aku ngga pa-pa capek mas.
Aku ngga pa-pa kurus kering.
Aku ngga pa-pa, ngga nerbitin buku lagi.
Aku ngga pa-pa, ngga jadi penulis terkenal.
Aku ngga pa-pa, ngga sekolah S3.
Aku ngga pa-pa, merawatmu sepanjang waktu.
Aku ngga pa-pa, menemanimu berobat seumur hidup.
Aku ngga pa-pa mas.
Tetapi mas jangan pergi.

Begini kisah titik balik perempuan itu.

Aku sesungguhnya terluka.
Aku bersedih.
Aku tak sanggup hidup sendiri.
Aku ibu yang rapuh.
Aku ibu yang tidak kuat.
Aku tidak strong, aku tidak mampu mengurus keempat anakku.
Aku rapuh.
Aku selalu saja begitu, yang tak mampu menghadapi kenyataan.
Hingga akhirnya aku tersadar, hingga anakku mengatakan bahwa ia membutuhkanku.
Ia tidak mau kehilanganku.
Setiap kesedihan itu datang, aku membayangkan anak-anakku.
Keempat anakku yang begitu pintar, sabar dan memahamiku.
Mereka sungguh sabar menerima semua takdir ini.
Kenapa aku tidak bisa?

Writing is healing.
Waktu memang tidak pernah menyembuhkan luka.
Namun waktu menemaniku melalui semua lukaku dan semua rasa kehilanganku.
Aku mensugesti diriku untuk bangkit, untuk sembuh dan untuk kuat.
Aku membaca banyak buku tentang healing.
Aku bergabung ke komunitas ibu tunggal yang mana aku bisa mengetahui banyak kisah.
Ternyata masih banyak wanita yang lebih menderita daripada aku
Aku juga mengikuti banyak seminar, pelatihan dan apapun tentang healing.
Aku juga berkonsultasi dengan pakarnya tentang apa yang sebaiknya bisa kulakukan.
Agar aku bisa segera move on dan tidak terpuruk.
Salah satu saran yang aku terima, yaitu aku diminta untuk mengerjakan hal-hal yang aku sukai.
Aku sangat suka membaca novel, mendengarkan musik dan yang paling kusukai adalah menulis.
Menulis adalah hobiku sejak dulu, dan sempat kutinggalkan ketika aku terpuruk kehilangan.
Pada akhirnya aku berhasil menuliskan kisahku ini dengan baik
Semua ini karena bimbingan ruang pulih yang aku ikuti, sehingga aku bisa semakin pulih dan semakin kuat.
Terima kasih IIDN yang telah menjembatani semua ini
Aku ingin menjadi manusia yang siap menyabut masa depan dengan bahagia.
Bukan manusia yang tinggal dalam kenangan dan menutup mata pada kenyataan!

Heal the past, Live the present and Dream the future.

Wawancara singkat kontributor antologi Pulih

wakaf asuransi syariah
Beberapa kali saya bertemu satu acara blogger dengan mba TD. Ada yang bisa nebak mba TD yang mana? Hihi

Kebetulan saya kenal dengan salah satu kontributor buku Pulih, mba TD yang menuliskan kisah di atas. Karena penasaran proses kreatif di balik penulisan tersebut akhirnya saya tanya langsung bagaimana proses penulisan antologi pulih.

Kenapa ingin ikut sebagai kontributor buku Pulih?

Ingin menyibukkan diri dan berusaha memanfaatkan waktu selama di rumah aja, mba TD ingin aktif menulis buku kembali. Kebetulan IIDN membuka peluang kontributor antologi buku Pulih. Merasa temanya cocok dengan problem yang dialami mba TD, ia pun segera mendaftar. Syukurlah diterima dan kisahnya bisa dibaca dalam antologi Pulih.

Ada kendala ngga saat proses menuangkan ide menjadi tulisan di buku Pulih?

Jujur waktu menulis terasa berat, sempat berhenti di tengah jalan. Apalagi pas denger suara takbiran langsung lemes, ingat hari berpulang sang suami.

Syukurlah terbantu dengan Art Therapy yang diberikan mba Intan.

Saat sesi Art Therapy bersama mba Intan, diminta menggambar pengalaman masa lalu, menuliskan apa yang menjadi pikiran di masa lalu. Bagaimana perasaan saat ini dan apa harapan di masa depan.

Dari situ, semua emosi, rasa belum ikhlas atas kehilangan, gagal move on bisa tersalurkan. Membuat perasaan menjadi lebih lega dari sebelumnya.

Selama sebulan dibimbing bersama kontributor lain, mba TD merasa bahwa permasalahan kontributor lain lebih berat bahkan masih menjadi beban sampai sekarang.

Sedangkan permasalahanku sebetulnya hanya berusaha ikhlas menerima takdir, walaupun saat ada dihadapkan dengan ujian hidup terasa berat beban hidup ini.

“Alhamdulillah, tulisan tentang suamiku ini bisa selesai. Rasanya lega”, ucap mba TD.

Dengar penuturan mba TD, saya ikut merasa bahagia. Saya tahu memikul tanggung jawab sebagai single parent dari empat anak yang masih usia sekolah semua itu beratt.

Kehidupan benar-benar berubah setelah ditinggal suami, syukurlah anak-anak mba TD itu pintar dan tabah.

Oiya, buku Pulih adalah tulisan pertama mba TD yang lumayan panjang tentang kenangan suaminya.
Sebetulnya sudah lama ingin menuangkan ke dalam blog, tapi selalu mandeg di tengah jalan karena sudah keburu nangis, ngga sanggup menuliskannya.

Kenapa harus baca buku antologi pulih?

Karena banyak manfaat yang akan didapatkan untuk pembacanya, terutama yang sedang ingin pulih dari luka batin.

❤ Lebih memaknai arti kehidupan

Hidup ngga selamanya berjalan mulus. Pasti diwarnai rasa sedih, tawa, cemas, takut, trauma, jatuh dan bangun. Semua rasa itu valid, tinggal bagaimana cara mengelolanya agar jadi pribadi kuat dan tangguh.

Memang ngga mudah, butuh waktu dan proses yang panjang. Mba TD sendiri butuh proses panjang sampai sekarang untuk menerima kenyataan, setelah suami berpulang tiga tahun lalu meskipun sudah menempuh berbagai usaha dan self healing.

Baru di buku antologi Pulih, mba TD berani menceritakan panjang lebar tentang kepedihan yang ia alami sejak kehilangan pasangan hidup. “Sebetulnya ingin menuliskannya di blog, tapi aku ngga sanggup,” ucap mba TD.

Sekarang ia merasa sudah lega bisa menuliskannya dalam buku meskipun hanya beberapa lembar. Manfaat yang sudah ia dapat setelah menulis buku antologi Pulih yaitu berusaha legowo, move on dan menerima takdir. Harapan mba TD kedepannya, ia ingin menuliskan kisah bersama suami di blog.

Semangat menulis terus mba TD!

Meningkatkan kesadaran perempuan pentingnya self care dan self healing

Perempuan sebagai ibu punya peran besar dalam kehidupan rumah tangga. Saat ibu merasa rapuh, sedih, emosional seisi rumah pasti akan merasakan dampaknya. Akibatnya kerjaan rumah jadi ngga keurus, urusan anak terbengkalai, semua orang di rumah kena omelan dan sebagainya.

Sebaliknya bila ibu merasa bahagia, pasti keluarga juga ketularan happynya. Dimasakin enak-enak, semua kebutuhan anggota keluarga terpenuhi.

Sesibuk-sibuknya seorang ibu, ia juga butuh me time ntuk dirinya sendiri. Butuh memenuhi kebutuhan jiwa untuk diri sendiri disamping urusan lainnya.

Dalam antologi pulih menceritakan pengalaman para kontributor tentang bagaimana mereka menjalani self care dan self healing selama menulis yang didampingi oleh konselor dan founder Ruang Pulih.

Belajar bertanggung jawab pada diri sendiri

Mba Intan bilang, tiap pribadi punya tanggung jawab untuk pulih. Konselor dan self healing hanya bantu mejadi wadahnya. Keputusan untuk sembuh ada di tangan tiap pribadi.

Pembaca bisa belajar dari kisah perjuangan dan harapan 25 kisah perjalanan pulih kontributor yang tentu punya sudut pandang dan latar belakang berbeda.

Apa yang sudah dituangkan kontributor dalam buku ini bukan sekedar curhat menuangkan kepedihan di hati. Lebih dari itu, kontributor berusaha menggali, mengkaji, menghubungkan dengan yang lalu, mengelola kemudian terbentuklah pribadi baru. Inspiratif!

Menarik melihat bagaimana cara mereka bangkit dari rasa keterpurukan selama proses menulis antologi Pulih.

Judul: Pulih
Tebal: 306 halaman
Ukuran: 14 x 20 cm
ISBN: 978-623-7841-76-0
Terbit: Agustus 2020
Harga normal: Rp 100.000,-
Harga PO: Rp 95.000,-

Duh.. jadi ngga sabar baca bukunya, pengen tahu kisah inspiratif dari kontributor antologi Pulih nih!

Kalau kalian tertarik, segera pesan bukunya di instagram @ibuibudoyannulis mumpung PO tahap 2 masih berlangsung.

33 Replies to “Antologi Pulih, bukti kepedulian IIDN pada kesehatan mental ibu-ibu”

  1. Semoga buku pulih ini bisa membantu mensolusi pembacanya yang sedang berjuang utk pulih dari keadaannya ya. Pastinya, teman2 penulis mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dari pengalamannya.

  2. masyaallah… aku nangis tuh mbak saat bu ketu membacakan cuplikan dari tulisan mbak TD. Jadi gak sabar juga pengen baca bukunya, pastinya sangat menginspirasi. Kebetulan aku juga suka baca buku real life kyak gini ^_^

Tinggalkan Balasan