Apakah Antibiotik Bisa Menyembuhkan Semua Penyakit?

antibiotik

“Bu, tolong belikan antibiotik 3 biji ya,” ujar suami yang mengeluh sakit pada istrinya. Istri pun bergegas ke apotek untuk membeli antibiotik yang diminta suami.

Begitu sampai di apotek, petugas apotek menanyakan resep dokter perihal permintaan pembelian antibiotik. “Ngga ada, belum ke dokter,” ungkap ibu dengan polosnya. Lalu petugas apotek memberikan informasi bahwa antibiotik harus dibeli berdasarkan resep dokter, sebab yang tau dosisnya hanya dokter setelah melakukan pemeriksaan langsung.

Itulah cuplikan video yang diputar di RSUD Dr. Soetomo untuk memperingati Antibiotic Awareness Week pada Sabtu, 30 November lalu. Masih banyak yang mengganggap bahwa antibiotik adalah obat yang bisa menyembuhkan semua penyakit. Apakah benar begitu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya pahami lebih dulu seluk beluk antibiotik dan cara menggunakannya.

Apa itu antibiotik?

dr spog surabaya

Antibiotik merupakan obat atau bahan kimia yang dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri. Bentuk kemasan berupa kapsul, kaplet, tablet, sirup, supposituria dan injeksi.

Pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming tahun 1928, setelah melalui penelitian panjang baru diproduksi tahun 1940an. Banyak jenis antibiotik ditemukan dan diproduksi namun sejak tahun 1980 sangat sedikit penemuan antibiotik baru. Sebab mahalnya biaya penelitian, saat diproduksi lalu dipasarkan cepat resisten dalam waktu singkat.

Kenapa antibiotik dibutuhkan?

Antibiotik diperlukan untuk menghambat atau mematikan bakteri yang menginfeksi manusia. Bilamana infeksi bakteri jahat ada di dalam tubuh dalam jumlah banyak dan sistem kekebalan tubuh tak mampu melawannya, antibiotik diberikan untuk mematikan bakteri. Antibiotik hanya diperlukan untuk mengatasi infeksi bakteri BUKAN untuk mengobati infeksi akibat virus.

Penyakit yang bisa sembuh tanpa mengonsumsi antibiotik

Berikut penyakit yang sering dialami oleh banyak orang, sebetulnya bisa sembuh tanpa mengonsumsi antibiotik. Bila antibiotik diperlukan, tentunya harus dengan pemeriksaan dan resep dokter.

✅ Infeksi saluran akut atau pneumonia
✅ Influenza atau flu
✅ Batuk pilek
✅ Diare cair tanpa darah atau lendir
✅ Demam berdarah
✅ Cacar air (varicella)
✅ Campak atau gabag
✅ Hepatitis
✅ Gondongan atau mump
✅ Demam tifoid
✅ Segala macam luka
✅ Operasi
Penggunaan antibiotik perlu dibatasi dan dikendalikan untuk mencegah resistensi. Namun ada beberapa operasi yang tak memerlukan antibiotik sama sekali dan hasilnya baik tanpa komplikasi antara lain:
✅ Amandel
✅ Operasi polip hidung
✅ Tumor leher
✅ Tumor jinak payu dara
✅ Tumor jinak pada otot atau lemak dan kulit
✅ Cabut gigi
✅ Sunat

Luka operasi akan sembuh dalam waktu 10 sampai 12 hari, selama luka operasi dirawat baik, bisa sembuh tanpa infeksi. Perlu diketahui bahwa antibiotik tak mempercepat penyembuhan luka.

Cara menghindari kebal obat

rsud dr soetomo
Dr. Dominicus Husada SpA(K) (kiri) dan dr. Arief Bakhtiar (kanan) saat sesi tanya jawab di seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019

Dr. Dominicus Husada, SpA(K), seorang dokter spesialis anak di RSUD Dr. Soetomo berpesan, cara supaya terhindar dari bahaya kebal obat adalah berusaha untuk tak sakit. Sebab bila sehat, kan tak perlu minum obat. Untuk itu, penting menjaga pola hidup sehat, menghindar dari orang sakit agar tak mudah tertular virus penyakit dan melaksanakan imunisasi.

Cara menghindari infeksi



Dr. Arief Bakhtiar dari departemen pulmonologi dan kedokteran respirasi RSUD Dr. Soetomo menyampaikan tips agar terhindar dari infeksi antara lain:

✅ Rajin mencuci tangan memakai sabun.

✅ Memakai masker di area yang terdapat banyak virus.

✅ Bila batuk gunakan lap tangan atau tisue untuk menghindari virus terkena tangan.

✅ Hindari memegang mata, hidung dan mulut bersamaan dengan tangan langsung.

✅ Hindari terlalu dekat dengan orang yang sedang sakit.


Cara menggunakan antibiotik dengan benar dan bijak

Perlu dipahami dari keterangan di atas, bahwa antibiotik diperlukan untuk mengobati penyakit yang disebabkan karena infeksi bakteri. Nah, sebelum mengonsumsi perlu diketahui lebih dulu sumber penyakit yang dialami disebabkan oleh virus atau bakteri.

✅ Penyakit infeksi karena virus tak memerlukan antibiotik.

✅ Pembelian antibiotik harus dengan resep dokter (tak boleh membeli antibiotik tanpa resep dokter).

✅ Tak mengulang pembelian antibiotik dengan cara copy-resep.

✅ Tak boleh menyimpan antibiotik sisa.

✅ Tak boleh memberikan antibiotik sisa pada orang lain.

✅ Tak menggunakan antibiotik untuk mencegah penyakit.

RSUD Dr. Soetomo serius memerangi kebal antibiotik

Saat ini seluruh dunia mengkhawatirkan peningkatan muncullnya bakteri resisten. Tahun 2013, WHO melaporkan 700.000 kematian akibat kompilkasi bakteri resisten per tahun. Diperkirakan tahun 2050 mencapai 10.000.000 kematian akibat bakteri resisten.

rsud dr soetomo surabaya
Para dokter bersemangat memerankan sandiwara tentang bijak memakai antibiotik

Bakteri resisten adalah bakteri yang akibat mengalami perubahan biologis, salah satunya mengalami mutasi sehingga tak bisa dimatikan oleh antibiotik yang biasa digunakan. Beberapa sebab bakteri resisten antara lain sebagai berikut:
✅ AMR, AntiMicrobial Resistance
Antibiotik digunakan tidak bijak dan berlebihan pada indikasi profilaksis dan indikasi terapeutik.

✅ Antibiotik dijual bebas tanpa resep.

✅ Penggunaan antibiotik berlebihan pada peternakan.

✅ Antibiotik digunakan untuk inveksi virus dan jamur.

✅ Penyebaran AMR karena kurang patuhnya pada prinsip pengendalian infeksi (cuci tangan)

✅ Tangan dan sarana kesehatan merupakan medium utama penyebaran AMR di rumah sakit.

Hasil study Amrin tentang AMR di Indonesia 2000 hingga 2005 di RSUD Dr Soetomo dan RSUD Dr. Kariadi Semarang ditemukan bakteri penghasil ESBL, Extended Spectrum Beta Lactamases yang biasa ditemukan di E Colli dan Klebsiella pneumoniae menjadikan resisten pada antibiotik. Muncul Carbapenem-resistant enterobacteriaceae (CRE). CRE adalah bakteri mematikan yang umumnya resisten pada semua jenis antibiotik. Belum selesai pada CRE, muncullah Carbapenem-resistant Acinetobacter baumanii (CRAB) dan Carbapenem-resistant Pseudomonas aeruginosa (CRPA). Kasus AMR di Indonesia cenderung meningkat, tahun 2016 mencapai 60%, sample dari 8 kota terpilih.

Kementrian Kesehatan mengeluarkan Permenkes No. 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi AntiMikroba (PPRA). RSUD Dr Soetomo sudah lebih dulu menjalankan PPRA sebelum adanya Permenkes. Ingin serius menggarap kasus AMR, RSUD Dr Soetomo membentuk Komite Pengendalian Resistensi AntiMikroba (KPRA) bersinergi dengan semua bagian di RSUD Dr Soetomo. Serta secara berkala mengadakan sosialisasi ke banyak pihak tentang penggunaan antibiotik.

rsud dr soetomo
Penghargaan bagi para dokter yang telah mensosialisasikan bijak memakai antibiotik dalam peringatan Antibiotic Awareness Week 2019

Common infections and minor injuries which have been treatable can kill any one. Dr. Keiji Fukuda, WHO

Setelah mengikuti seminar pekan kewaspadaan antibiotik dunia 2019, saya jadi paham dan lebih hati-hati mengonsumsi antibiotik untuk mengobati penyakit. Telusuri lebih jauh infeksi disebabkan bakteri atau virus.

4 Replies to “Apakah Antibiotik Bisa Menyembuhkan Semua Penyakit?”

  1. Wah Dr. Hari Paraton juga hadir langsung di seminar ini ya. Beliau lah yang menginspeksi langsung penggunaan antibiotik pas aku koma kemarin, pengen gitu bisa ketemu lagi hihihi.

    Ngiriiii euy, bagus banget ini materi seminarnya, kerennya lagi orang awam bisa ikut.

    1. Dr Hari Paraton kelihatan sabar ya mba. Baru dateng di lokasi dimintai tolong orang-orang fotoin lo mau. Hihi
      Iya beruntung bisa jadi peserta, kemarin undangannya memang merata selain dari RSUD setempat, ada instansi terkait, organisasi, kader puskesmas, posyandu dan sekolah

  2. […] demam ada berbagai macam. Umumnya penyebab demam tinggi yang sering dialami anak karena terinfeksi bakteri dan virus. Bisa berasal dari penyakit seperti sakit flu, radang tenggorokan, campak, cacar air, […]

Tinggalkan Balasan