Waktu yang Tepat bagi Anak Belajar Multilingual

Waktu yang Tepat bagi Anak Belajar Multilingual

Amaze.. ketika melihat anak anak para seleb di instagram, yang dari sejak kecil udah mahir cas-cis-cus bahasa Inggris. Tapi sempet muncul di kekhawatiran, sedari balita sudah di ajari bahasa asing, apa nggak binggung bahasa nantinya ?. Ditambah lagi mitos, anak akan mengalami terlambat wicara jika diajari bahasa asing sejak dini. Sewaktu tahu English First (EF) Surabaya ngadain talkshow Sabtu, 15 Juli lalu dengan tema How To Help Your Kids Learn English, jadi penasaran pengen ikutan. Alhamdulillah dapet undangan dari Wajah Bunda Indonesia (WBI), untuk menggantikan seorang teman yang berhalangan hadir. Terima kasih banyak yaa..

Istimewanya.. di EF talk show kali ini, menghadirkan menghadirkan seorang psikolog, Rosilina Verauli yang akrab dipanggil mbak Vera. Mbak Vera ini psikolog yang wira wiri di Cerita Perempuan Trans Tv bersama Oky Setiana Dewi. Nggak ketinggalan, menghadirkan langsung pasangan yang selalu kelihatan kompak dan dipercaya EF menjadi Brand Ambassador, Donna Agnesia dan Darius Sinathrya. Mereka berdua bakal cerita tentang cara dan kebiasaan untuk mendidik ketiga buah hatinya Lio, Diego, dan Sabrina lancar berbahasa Inggris. Udah gak sabar nih..

Sebelum talk show dimulai, EF mengajak beberapa student program EF high flyer. Ketika coach bilang, “I expect you to be able to introduce your self one by one, okey ?” diwajab sama mereka dengan santai dan pastinya nggak belibet ngomong bahasa Inggrisnya. Kebanyakan dari mereka sepakat kalau belajar bahasa Inggris di EF itu FUN. Semoga anak saya nantinya bisa PeDe dan lancar ngomong bahasa inggris, kaya mereka, batin saya. Amiinn..

A post shared by Syarifani (@syarifani89) on

MITOS vs FAKTA ANAK BILINGUAL 

“Diantara Mom and Dad adakah yang masih ragu mengajarkan bahasa Inggris ke buah hatinya sejak kecil ?”, tanya Mbak Vera ke peserta talk show. Beberapa peserta ada yang tunjuk jari, dan ditanyai alasannya. “Bagi saya pribadi, melihat anak lancar berbahasa Inggris sejak kecil itu bagus, tetapi saya pernah mendengar dari beberapa orang yang mengatakan, ketika terlalu cepat memberikan sesuatu kepada anak di masa dia harusnya bermain , justru akan membunuh kreatifitasnya di masa yang akan datang.”tutur salah seorang peserta.  

Tanggapan dari peserta lain, “Saya masih binggung untuk mengajarkan pada anak bahasa Inggris,  bahasa Indonesia aja masih belum fasih”.

Dari berbagai mitos dan kekhawatiran orang tua, akhirnya mbak Vera mengajak peserta berpikir bersama dan menjawab mitos dengan fakta yang sesungguhnya, antara lain

Mitos pertama, Jangan mengenalkan bahasa asing, sebelum anak menguasai bahasa ibunya

Ternyata the golden moment untuk belajar bahasa, terpusat di korteks otak. Bagian korteks merupakan pusat berpikir tingkat tinggi di dalam otak.

Dalam grafik golden moment menunjukkan, kemampuan anak menyerap bahasa meningkat saat usia 6 tahun.  Sewaktu anak di dalam janin pun, sudah bisa menangkap bahasa dari luar. Contohnya ketika mengaji, bayi di dalam janin ikut mendengarkan. Ketika sudah lahir, bayi di nina bobo kan dengan lagu twingkle twinkle twinkle little star. Anak diajak nyanyi lagu daerah, seperti cublak cublak sueng.

Faktanya, dari hasil penelitian, puncaknya berada di usia 1 tahun pertama anak. Memang anak belum bisa bicara, tapi mereka mampu merekam semua stimulasi yang didengar. Seorang peneliti Noam Chomsky mengatakan, Dalam otak manusia sudah lebih dulu ada program, “Language Acquistion Device” (LAD) yang memungkinkan bayi melakukan analisis dan memahami aturan dasar bahasa yang mereka dengar. Bayi memiliki kapasitas bawaan menguasai bahasa.

Dan dari penelitian terbaru ketika membandingkan suara tangisan bayi di berbagai negara, suara tangisan mereka berbeda beda. Riset menunjukkan, suara tangisan anak dipengaruhi ketika mereka merekam bahasa orang orang yang ada di sekitarnya.  

Penting sebagai orang tua, harus bisa memanfaatkan momen yang bisa dibilang cuma sebentar, namun manfaatnya sangat besar bagi perkembangan bahasa anak kedepannya dan jangan sampai terlewatkan masa golden moment ini yaa..

Mitos kedua, Khawatir anak terlambat wicara bila diajari berbahasa asing sejak dini.

Faktanya, perkembangan keampuan berbahasa atau fungsi wicara itu sangat kompleks yang melibatkan area Susunan Syaraf Pusat (SSP) yaitu cara anak merespon stimulus dari luar dan area berpikir (seperti interpretasi bunyi, kemampuan verbal, memori, alur berpikir, dsb), hingga aspek emosi dan sosial anak.

Sebenernya perkembangan kemampuan bahasa anak terbagi dalam 6  tahapan

  1. Self regulation & interest of the world (0-3 bulan),
  2. Forming relationships & affective vocal synchrony (2-7 tahun)
  3. International 2 way communication (8-12 bulan)
  4. First words : sharing meanings in gestures and words (12-18 tahun)
  5. Words Combinations – sharing experience symbolically (18-24 bulan)
  6. Early discourse – reciprocal symbolic interaction with others (24-36 bulan)

Mitos ketiga, anak bilingual alami akan mengalami bingung bahasa (code switching)

Faktanya, bingung bahasa atau code switching atau language mixing merupakan bagian dari proses menguasai kedua bahasa dengan baik. Seiring bertambahnya usia, akan hilang dengan sendirinya.

Mitos selama ini kan sudah terjawab, kira kira kita sebagai orangtua masih worry kah mengajarkan bahasa asing kepada anak ?

Kalau masih worry, oke kita lanjut ke topik berikutnya.

Hayoo.. Pilih mana Mom and Dad, MONOLINGUAL atau MULTILINGUAL ?

  1. Menurut penelitian anak anak multilingual lebih unggul dibandingkan anak anak monolingual, karena memiliki beberapa kelebihan. Apa aja sih kelebihannya ?
  2. Memiliki performa IQ lebih baik dalam, tes atensi, penalaran analitikal pembentukan konsep, dan kemampuan verbal, dan fleksibilitas berpikir.
  3. Memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik. Anak lebih handal dalam kesadaran metalinguistik (seperti mendeteksi kesalahan dalam grammar, memahami arti dan aturan dalam percakapan.
  4. Memiliki kemampuan bersaing dalam memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa depan.

Mbak Vera menekankan, untuk mengoptimalkan upaya penyerapan bahasa asing pada anak dibutuhkan komitmen, konsistensi, dan system support di sekitar anak. “Orang tua harus menciptakan lingkungan yang mendukung agar anak bisa mengembangkan kemampuan bahasa asingnya”,

Mbak Vera menyampaikan, stimulasi merupakan hal mendasar dalam merangsang kecakapan berbahasa asing anak. Stimulasi bisa diberikan dalam bentuk :

  • Merespon bunyi-bunyi dari bayi dengan bunyi atau kata,
  • Memberi perhatian dan komentar pada apa yang anak lihat,
  • Bermain social games,
  • Melibatkan anak dalam bermain pura-pura,
  • Melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari.

Stimulasi sekecil apa pun penting saat mengenalkan anak pada bahasa asing. Tidak lupa peran dari lingkungan sekitar yang disebut dengan system support harus dibangun untuk membesarkan anak multilingual.

Lalu bagaimana dengan penggunaan teknologi sebagai alat bantu belajar bahasa Inggris ?

Bahasa merupakan perilaku sosial, dibutuhkan interaksi yang aktif antara anak dan orangtua atau pendamping di sekitarnya, bukan hanya anak dengan gawai atau komputer”, jawab Mbak Vera. Penggunaan teknologi bisa membantu anak belajar bahasa Inggris asalkan tetap didamping oleh orangtua dan guru.

ef

DONNA AGNESIA DAN DARIUS BERBAGI RESEP MENDIDIK ANAK

Pasutri dengan 3 anak unyu unyu ini juga akan sharing tentang kebiasaan mendidik anak dengan karakter berbeda beda, tentunya melalui tahap perkembangan yang berbeda pula. Kemampuan bicara anak satu dengan yang lain berbeda. Donna mengungkapkan, “Sabrina si bungsu, kemampuan berbicaranya agak telat dibanding kakaknya, ada fase dimana dia bergumam lebih dulu, baru bisa berbicara dengan jelas. Namun masih dalam kondisi wajar, melihat penjelasan tahapan perkembangan dari Mbak Vera tadi.”  

Ditanya sejak kapan mengenalkan bahasa inggris pada anak, tanggapan Darius begini

Sebagai ayah tentu sangat senang sekali ketika mendengar istri hamil. Sejak di dalam kandungan kita sering mendoakan bayi dengan berbagai bahasa, baik bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kadang saudara juga suka menyanyikan bahasa daerah.”

Menurut Donna, saat ini anak dengan kemampuan multilingual akan lebih baik karena mudah beradaptasi. Seperti kami contohnya, waktu ngeMC kadang menggunakan bahasa asing.  

Komunikasi antara orang tua dan anak menjadi hal yang penting, “Anak sekarang lebih kritis malah kadang kitanya yang belajar dari anak. Kadang kalau ucapan saya salah dan dikoreksi anak, saya gak segan segan minta maaf ”imbuh Donna.

Menanggapi mitos mengenai belum waktunya mengajarkan bahasa asing pada anak di usia dini, karena perkerjaan anak yang sebenernya dalah bermain.  “Saya memahami anak anak perkerjaannya bermain, tetapi sekarang ini kan ada berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan seperti di EF yang disesuaikan dengan tahapan umurnya. Metode yang digunakan di EF ini bikin anak anak FUN dan nggak cepet bosen.”

Metode pembelajaran di EF terbagi atas beberapa program, yang dimulai dari umur 3 tahun. Tiap kelas tentu memiliki metode yang berbeda disesuaikan dengan umur anak. Kelas small star untuk anak 3-6 tahun dengan kelas high flyer, suasana dan metode yang digunakan pun beda.

ef  

Yuk ajarkan bahasa asing pada si kecil, mumpung masih di usia golden moment.

8 thoughts on “Waktu yang Tepat bagi Anak Belajar Multilingual

    1. Jangan bingung mbak yang terpenting untuk membuktikan kepada diri sendiri sebagai orang tua jangan ragu memberikan stimulasi sejak dini karena otak bayi ini lebih cepat menangkap (seperti sponge). penelitian di atas juga dilakukan oleh professor ahli di bidangnya. Pasti sudah melalui berbagai macam tes uji coba yang valid. Sudah ada beberapa orang tua yang membuktikan juga, dengan stimulasi bahasa sejak dini, ketika anak bisa berbicara dia akan lebih mudah dan cepat belajar bahasa.

  1. wah bermanfaat sekali sharingnya mbak, terima kasih. Mengajarkan bahasa menurut saya memang bagus sejak dini karena akan tertanam di otak

  2. Ulasan yang bagus, Mbak! Saya juga pro mulitilingual. Karena sejak kecil sudah mengenal bahasa Inggris, sekarang anak saya – kelas 7, pede saat harus cas cis cus, yang akhirnya ngefek ke aspek kepercayaan diri yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *