Mainan DIY : Yuk! buat mainan sensoris sendiri

Mainan DIY : Yuk! buat mainan sensoris sendiri

Seminggu yang lalu tepatnya Jumat, 28/10/2016 Ayo Main mengadakan workshop membuat mainan sensori di acara Mother & Baby Fair Surabaya. Alhamdulillah saya termasuk dari 30 pendaftar pertama yang beruntung menjadi peserta workshop tersebut yeey…

Yang menjadi nara sumbernya Kak Dayat dari Ayo Main dan Mba Putri Sari (Iput) seorang psikolog dan penulis buku Catatan Main Anak. Langsung aja dibahas yaa mom..
Workshop diawali dengan penjelasan dari Kak Dayat mengenai Manusia sebagai homo ludens atau makhluk bermain. Jadi selain makhluk yang berfikir manusia juga termasuk makhluk yang bermain. Dalam proses manusia bermain ada 3 tingkatan yang disesuaikan dengan tingkatan umur :

  1. Toy (Mainan)

Usia anak 0-3 tahun masuk dalam kategori ini. Di tingkatan toy ini anak akan bereksplorasi terhadap lingkungan sekitar karena anak pada tahapan ini akan penasaran kepada semua yang ada di dunia ini.

Contohnya ketika anak menjatuhkan sendok. Sebenarnya anak sedang bereksplorasi tentang bagaimana suara sendok itu, benda yang barusan bunyi itu benda apa sih. Kemudian anak akan mengeksplorasi tentang bagaimana reaksi orang lain terhadap bunyi tersebut. Semakin orang lain di sekitarnya panik, anak tersebut akan semakin suka. Oh, ternyata bunyi tersebut akan menghasilkan reaksi dari orang lain.

Kemudian Kak Dayat bertanya kepada peserta yang hadir, “Pernah ga sih bunda melihat anaknya yang jail ketika kita bilang NO, dia malah melakukan hal yang kita larang tersebut?”. “Karena manusia itu di dalam dirinya mempunyai sifat pemberontak/ selalu berlawanan atau dinamakan psikologi terbalik (reverse psychology)”, lanjut Kak Dayat.

  1. Play

Di tingkatan ini anak sudah mulai mengenal interaksi terhadap sesama, makanya terjadi sesi play. Play itu sebenernya sederhana seperti anak yang sedang kejar-kejaran terus mereka ngobrol. Kak Dayat kembali bertanya pada peserta, “Pernah ga denger anak yang belom bisa ngobrol sama sekali tapi mereka berkomunikasi?”. “Seperti mengoceh kepada orang lain tapi tidak jelas apa yang dibicarakan”.

Lalu Kak Dayat mencontohkan anak yang sedang main pukul-pukulan pakai bantal/ guling. “Sampai kapan mereka akan bermain pukul-pukulan?”, Tanya Kak Dayat. “Sampai capek sendiri”, jawab moderator. “Karena sebenarnya keinginan untuk bermain itu tidak terbatasi oleh ruang dan waktu”, ungkap Kak Dayat.

  1. Games

Ketika ada intervensi aturan, reward, punishment, durasi. Kak Dayat mencontohkan, ketika ada anak yang sedang main pukul-pukulan dengan bantal kemudian ada intervensi dari orang tua yang menjelaskan, “Kak mainnya sampai jam 8 malem aja ya?” hal tersebut masuk dalam kategori durasi.

Kemudian orang tua menjelaskan, “nanti yang jatuh pertama berarti kalah ya? sudah selesai ya?” hal tersebut masuk dalam kategori aturan.

“Coba aja bapak dan ibu menerapkan intervensi tersebut pada usia 1-4 tahun, pasti mereka belum nyambung karena otak anak usia 1-4 tahun belum bisa  mencerna karena belum saatnya mereka dihadapkan pada games”, tegas Kak Dayat.

Kemudian Kak Dayat berpesan, “kenapa anak sekecil itu belum bisa pegang gadget? karena mereka belum bisa mencerna itu semua mulai dari soal aturan, intervensi”.

“Saya dulu seorang games desainer jadi saya tahu games tersebut dibuat dan tidak ada games yang dibuat untuk anak sekecil itu. Aplikasi tertentu saja seperti aplikasi yang bisa balas ngobrol jadi mulai hati-hati kita batasi paparan teknologi seperti gadget kepada khususnya anak kita, karena beberapa hal tidak dirancang untuk anak-anak”.

Penjelasan dari Kak Dayat dan Mba Iput

Selanjutnya giliran Mba Iput yang ditanya oleh moderator,

“Dalam tahapan tumbuh kembang anak kenapa sih bermain itu penting? Apa yang sedang dibentuk saat anak-anak sedang bermain?”.

“Pekerjaan anak-anak itu bermain, dengan bermain anak bisa bereksplorasi terhadap lingkungan sekitar seperti bunyi sendok yang jatuh, dari situ anak bisa belajar sebab-akibat, tahu hal-hal baru”, jelas Mba Iput.

Bahan untuk membuat mainan sensori

Setelah puas mendengarkan penjelasan singkat dari Kak Dayat dan Mba Iput lanjut ke sesi selanjutnya yaitu membuat mainan sensori dari bahan yang sudah diberikan yang terdiri dari :

  • Bulatan karton bisa diambil dari bekas tempat tissue/ bekas isolasi
  • Pita ukuran ± 5 cm
  • Pita kecil ukuran ± 2 cm sebanyak 5 buah
  • Kerincingan 2 buah
Seperti ini jadinya…

Cara membuat :

  1. Balut bulatan karton dengan pita ukuran ± 5 cm hingga bagian dalam karton tidak terlihat.
  2. Ikat tali ukuran ± 2 cm tersebut, 2 diantaranya ikat menggunakan kerincingan.
  3. Siap dimainkan.

Supaya lebih asik mainnya menggunakan lagu yang isi liriknya juga bermanfaat untuk mengenalkan anggota tubuh si anak lho..

Lagunya bisa dilihat di bawah ini yaa..

Sekian reportasi saya tentang workshop bersama Ayo Main, terima kasih sudah mampir di blog 🙂

Kimika lagi asik sama mainan barunya 🙂

12 thoughts on “Mainan DIY : Yuk! buat mainan sensoris sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *