First Experience : Melahirkan di RS. Husada Utama Surabaya

First Experience : Melahirkan di RS. Husada Utama Surabaya

Kehamilan pertama merupakan momen spesial bagi seluruh wanita. Setelah menunggu selama 9 bulan akhirnya tamu kecil yang ditunggu-tunggu datang juga. Berbagai persiapan telah dilakukan baik fisik maupun batin. Dari faktor fisik alhamdulillah semuanya normal tidak ada masalah kesehatan baik saya maupun janin. Hal tersebut tidak terlepas dari rajin bergerak, rajin jalan kaki, rajin senam hamil, istirahat cukup, dan asupan bergizi, sehingga pada saat janin berusia 38 minggu posisi kepala janin sudah masuk ke dalam panggul saya. Selain itu faktor yang mempengaruhi kesiapan batin selain berasal dari dukungan keluarga, bantuan dan kesigapan dari tenaga kesehatan juga menjadi hal yang vital. Karena belum berpengalaman saya pribadi menjadi sangat selektif dalam memilih dokter SPOG dan tempat untuk melahirkan nantinya. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan saya adalah :

  1. Rumah sakit

Rumah sakit tempat melahirkan harus telah bekerja sama dengan fasilitas kesehatan kantor. Kalau saya pribadi menggunakan fasilitas kantor milik suami. Penting untuk mencari referensi tempat melahirkan ke teman kantor yang sudah pernah melahirkan sebelumnya di rumah sakit yang bersangkutan. Kebersihan, kenyamanan, kelengkapan fasilitas kesehatan hingga jarak rumah sakit dari rumah juga mejadi pertimbangan. Ga kepengen juga kan melahirkan di tengah perjalanan menuju rumah sakit hanya karena disebabkan lokasi rumah sakit yang jauh dari tempat tinggal calon ibu.

  1. Dokter/Bidan

Karena saya berencana melahirkan secara normal dari awal saya berniat mencari dokter SpOG perempuan yang praktik di rumah sakit yang telah bekerja sama dengan fasilitas kesehatan kantor. Mengenai dokter, saya pada awal kehamilan sempat gonta ganti dokter untuk mencari yang cocok. Yang terpenting juga dokter tersebut harus Pro normal, Pro ASI, Pro Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan memiliki jam praktek di luar jam kerja. Memiliki jam praktek di luar jam kerja ini penting agar suami tahu secara langsung bagaimana kondisi janin dan istri. Saya juga kontrol ke Dr. Harris Armadi SpOG yang bertempat di Graha Masyithoh Surabaya karena dapat informasi dari temen kalo USG 4D murah meriah cuma IDR 125K aja uda sama jasa dokter dan juga jam praktiknya setelah jam pulang kantor. Kalau ga mau antri lama sebaiknya ambil nomer antrian terlebih dulu sekitar jam 05.30 wib karena semakin malam semakin ramai. Temen saya pernah antri sampai jam 24.00 wib karena yang antri banyak sekali 😓.

Atas beberapa pertimbangan tersebut akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke Rumah Sakit Husada Utama SurabayaKelebihan di Husada Utama kita bisa appointment by phone dulu sebelum berkunjung jadi ga perlu antri lama-lama antri pas dateng. Dokter SpOG saya Dr. Maya Sri Kamaroekmi SpOG (K) FER. Beliau satu-satunya dokter SpOG perempuan di RS Husada Utama yang juga berkompeten di bidang fertifiltas. Jadi bagi ibu-ibu yang belum dikaruniai keturunan dalam kurun waktu lama (lebih dari 1 tahun) dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan beliau. Beliau praktik di RS. Husada Utama tiap Selasa, Kamis, Sabtu jam 09.00 pagi sampai pasien habis. Jika ibu-ibu berhalangan kontrol ke dokter saat pagi karena bekerja ga usah khawatir Dr. Maya juga berpraktik di RSIA Kartika Surabaya sorenya mulai jam 4.

Selain itu kelebihan melahirkan di RS Husada Utama, kamar rawat inap untuk anak dan ibu melahirkan lantainya terpisah dari pasien-pasien dewasa. Fasilitas kesehatannya lengkap, ada banyak pilihan dokter spesialis Obgyn dan anak. Ruang bersalinnya serasa di kamar hotel soalnya ada jendela besar dan pemandangannya mengarah ke Plaza Surabaya. Makanannya enak.. sehabis melahirkan saya dikasih 1 slice rainbow cake *biar ASI lancar* 😜.

Setelah saya bahas tentang hal apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memilih tempat melahirkan sekarang saatnya saya bahas kronologi detik-detik menjelang kelahiran anak pertama saya.

Hari Perkiraan Lahir (HPL) saya jatuh tanggal 05 Februari 2016. Suami kebetulan mendapat tugas dinas luar kota dari pertengahan Januari hingga Februari, beruntungnya lokasi dinas masih dalam lingkup Jawa Timur jadi semisal saya mau melahirkan bisa segera pulang dan cepat sampai. Menjelang kelahiran, usia 38 minggu dokter memberikan saya obat tambahan yaitu Alinamin F. Saya sempat diberitahu salah seorang teman, setelah dia minum Alinamin F 3 hari kemudian melahirkan karena obat tersebut memicu kontraksi. Sempat dilema antara mau diminum atau tidak. Akhirnya saya putuskan tidak minum karena khawatir akan segera melahirkan sedangkan suami di luar kota. Untuk mengetahui fungsi obat Alinamin F untuk ibu hamil saya akan sertakan linknya agar ibu hamil memahami manfaatnya Alinamin F menurut dokter.

Hari-hari dan detik-detik melahirkan :

Senin, 25 Januari 2016

Tiba-tiba mimpi ngeliat wajah bayi, seperti diberikan firasat jika waktu melahirkan akan semakin dekat. Paginya suami berangkat dinas luar kota.

Rabu, 27 Januari 2016

Pagi ikut senam hamil di RSIA Kendangsari Surabaya masih sempat nyetir motor sendiri. Rabu malam sudah mulai kontraksi dan frekuensinya sering sehingga semalaman ga bisa tidur sama sekali menahan rasa mulas akibat kenceng-kenceng di perut. Teknik pernafasan yang diajarkan di senam hamil rupanya bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit akibat kontraksi yang semakin sering.

Kamis, 28 Januari 2016

Karena kontraksi tidak kunjung berhenti akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit jam 02.30 wib dini hari. Awalnya mau menunggu hingga subuh namun apa boleh buat karena tidak kuat menahan perut yang semakin mulas ditambah lagi dengan buang air kecil yang disertai dengan sedikit darah sehingga urin bewarna pink. Sesampai di Rumah Sakit saya diperiksa oleh perawat sudah bukaan berapa dan perawat memasangkan alat pendeteksi kontraksi. Alat pendeteksi tersebut mengukur frekuensi rentang kontraksi yang kemudian menghasilkan grafik. Setelah dicek kurang lebih 15 menit perawat tersebut memberitahukan bahwa jalan lahir saya sudah bukaan satu. Kemudian 15 menit kemudian saya diambil sample air ketuban. Setelah menunggu beberapa saat perawat memberitahukan saya bahwa jalan lahir saya sudah bukaan 2. Seketika itu saya dirujuk untuk tinggal di kamar Rumah Sakit.

Pagi hari kontraksi saya sudah tidak seberapa terasa dibandingkan dengan semalam. Saya masih bisa sarapan dengan lahap dan mandi. Setiap 2 jam sekali perawat rutin memeriksa jalan lahir dan tekanan darah saya. Setelah saya tanyakan ke perawat cairan pelunak tersebut adalah Alinamin F versi cairnya. Perawat memberikan cairan pelunak jalan lahir melalui injeksi di pembuluh nadi tangan kiri.

Beberapa saat kemudian perawat datang memberitahukan bahwa ada prosedur yang harus dilakukan oleh pasien yang akan melahirkan yakni cek darah untuk mengetahui ada tidaknya virus HIV dan Hepatitis B dan sempat ditanyakan oleh mama saya apakah diharuskan tiap pasien yang akan melahirkan di cek darahnya? Perawat menjelaskan bahwa tiap rumah sakit mewajibkan karena sudah prosedur. Jam 10.00 wib kontraksi mulai sering dan saya gunakan untuk jalan-jalan di kamar dengan nafas lambat namun panjang seperti teknik pernafasan di senam hamil. Jam 12.00 wib setelah makan siang dengan lahapnya rasa mual tak tertahankan yang berakhir dengan keluarnya makanan dan minuman yang sudah saya konsumsi. Padahal selama hamil saya tidak pernah mual sekalipun. Besertaan dengan mual tersebut saya juga mengeluarkan cairan seperti urin namun ternyata bukan urin melainkan lendir yang disertai darah cair. Jam 13.30 kontraksi semakin kuat frekuensinya 2 menit sekali, akhirnya saya dibawa ke ruang melahirkan. Sesampai di ruang kelahiran beberapa perawat sibuk sendiri untuk menyiapkan segala keperluan sedangkan saya tetap mempraktikan pola pernafasan seperti di senam hamil namun semakin saya bernafasan panjang keinginan untuk mengejan pun semakin besar. Ibarat kebelet buang air besar tapi harus ditahan, rasanya luar biasa ga kuat! Pengen buru-buru dikeluarin dan plong. Tapi apa boleh buat perawat belum memperbolehkan untuk mengejan karena saat itu bukaan 9 dan dokter belum datang. Kemudian saya diinstruksikan oleh perawat agar bernafasan pendek dan di tiup-tiup untuk mengurangi keinginan mengejan. Awal-awalnya manjur namun kelama-lamaan juga ga kuat pengen cepet dikeluarin bayinya, sampai suami ikut panik ngeliat saya yang kesusahan nahan ngejan. Jam 14.30 finally yang ditungu datang dokter! Tega banget si membiarkan saya menunggu sakit ini, sambil tersenyum bahagia. Dokter menginstruksikan perawat untuk memasangkan infus karena saya lemas sampai badan gemeteran kurang energi akibat mual-mual. Setelah dipasangkan infus saya seperti mendapat energy baru lalu dokter menggunting perineum dan keluarlah air hangat dari dalam perut saya. Lega banget setelah itu keinginan untuk mengejan agak berkurang. Ternyata kontraksi tersebut berasal dari air ketuban yang seperti ingin mendorong keluar. 4 kali saya mengejan dan akhirnya keluarlah buah hati kesayangan saya ini. Disambut dengan tangisan bayi yang kencang dan saya terkulai lemas serasa habis marathon keliling perumahan! Setelah bayi saya dibersihkan kemudian ditaruh di dada saya untuk IMD sambil dokternya menjahit jalan lahir saya. Sempat beberapa kali dokter saya marah gara-gara saya reflek mengangkat pantat sewaktu dijahit. Dokter mengatakan pada saya fokus saja dengan bayinya supaya cepat selesai. Asli setelah bayi keluar rasanya plong banget dan rasa sakit uda sirna seketika jadi mau dijahit pun sebenernya uda ga seberapa kerasa. Acara jait menjahit pun selesai, bayi saya di bawa ke ruang bayi dan saya minta perawat untuk beristirahat sejenak. Setelah tidak tidur semalaman menahan sakit akhirnya tiba waktu saya untuk istirahat sejenak.

Problem baru pun ditemui ASI saya belum keluar di hari pertama untung saja Rumah Sakit tersebut Pro ASI jadi memaklumi jika sampai H+7 paska melahirkan ada yang belum bisa memberikan ASI. Namun saya tetap diberikan suplemen pelancar ASI (lactamom) dan Alhamdulillah ASI bisa keluar. Setelah ASI berhasil keluar masalah selanjutnya adalah kerewelan bayi mencari puting ibu, hal ini yang dimaksud bingung puting karena bayi masih mencari-cari perlekatan yang pas dengan mulutnya untuk menghisap. Sampai puting saya lecet dan berdarah, kesentuh sedikit aja perihnya bukan main namun disisi lain saya tetap harus menyusui. Disinilah kesabaran seorang ibu diuji, susah memang. Apalagi seminggu kemudian mama saya harus pulang rasanya sedih sekali, saya tidak bisa membayangkan bagaimana harus mengurus rumah sendirian beserta mengurus bayi. Ini benar-benar hal baru di kehidupan saya dan tantangan saya sebagai seorang ibu baru. Besar harapan saya semoga bisa terus kuat dan sabar melalui tantangan kehidupan ke depannya dengan lebih baik. Amin ya robbalallamin.

Paketan dari RS Husada Utama
Paketan yang saya dapat setelah melahirkan dari RS. Husada Utama Surabaya  🙂

More Info :

Rumah Sakit Husada Utama Surabaya

Prof. Dr. Moestopo No.31-35, Surabaya – 60131
Telp. (031) 501 8335
Fax. (031) 501 8337 / 501 0777
info@husadautamahospital.com

Klinik Utama Rawat Inap Kartika

Ngagel Jaya Utara
2 A-B Surabaya.
Telp (031) 5042395

Graha Masyithoh

Menur Pumpungan No. 34 A (Sebelah Perpustakaan Daerah Surabaya)
081 233 860 000

17 thoughts on “First Experience : Melahirkan di RS. Husada Utama Surabaya

  1. Mbaaa, aku hamil 31wk dan alhamdulillah selama hamil jg minim keluhan. Semoga aku bisa lahiran lancar kayak Mba. Kayaknya perlu belajar nafas panjang sm nafas pendek nih. Thanks for sharing. Salam kenal dr Tulungagung 😀

  2. Kl blh tahu hbs brp mb utk persalinan normal disana. Dpt yg kls apa kmrn? Sy dpt fasilitas ktr tp yg kls 2. Diisi brp pasien y kl kelas 2? Mksh sblmnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *